Gunung Sibual-buali mengepul, pertanda musim hujan di Sipirok


Kepulan awan dari kawah Gunung Sibual-buali yang diyakini warga sebagai pertanda curah hujan masih tinggi. (Amran Pohan)

Sipirok – Bagi sebagian besar warga petani di Sipirok, Kabupaten Tapsel, fenomena alam masih dijadikan acuan untuk melakukan atau memulai aktivitas pertanian.

Misalnya, kepulan awan dari kawah Gunung Sibualbuali, masih diidentikkan dengan, curah hujan akan tinggi beberapa hari, minggu bahkan beberapa bulan ke depan.

“Artinya, jika kawah mengeluarkan kepulan, warga meyakini musim penghujan masih berlanjut,” ungkap masyarakat Sipirok Mangaraja Hurning (78).

Dikatakannya, kepulan dari kawah tersebut telah lama dijadikan pertanda hujan, sehingga para petani menjadikannya acuan untuk memulai aktivitas pertanaman. Sebab, lahan persawahan di wilayah itu, belum memiliki fasilitas pengairan yang memadai, alias mengandalkan curah hujan.

Hal senada diungkapkan Zulkifli Siregar (56) warga lainnya. Menurutnya, dari dulu sampe sekarang pola tanam padi sawah di Sipirok, memang sangat dipengaruhi oleh curah hujan. Sehingga, dengan membaca fenomena alam, maka para petani akan lebih mudah mengambil keputusan untuk memulai aktivitas pertanianya. Seperti menyemai benih, dan membersihkan lahan.

“Kepulan awan dari haritte (kawah Gunung Sibual-buali menjadi pertanda curah hujan masih akan tinggi,” ungkapnya. (ran)

[Sumber]

Sipirok.net

Sipirok adalah salah satu kecamatan, sekaligus pusat pemerintahan Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Indonesia. Jarak ibu kota Medan ke Sipirok sekitar 356 km, atau sekitar 8- 9 jam dengan transportasi darat.

Berita terkait