Puluhan pedagang dan PT TSM ‘damai’ terkait kasus penyegelan kios


Puluhan pedagang dari Pasar Huta Tonga dan Pasar Sigalang yang mencoba merangsek masuk ke dalam ruang pertemuan pada saat mendatangi kantor PT TSM, Senin (5/2/2018)

Padangsidimpuan – Puluhan pedagang dari Pasar Sigalangan dan Huta Tonga, Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapanuli Selatan, Senin (5/2/2018) kemarin mendatangi kantor PT Tapanuli Selatan Membangun (TSM) di Jalan Raja Inal Siregar, Batunadua, Kota Padangsidimpuan.

Kedatangan puluhan pedagang yang terdiri dari ibu-ibu, bapak-bapak ke kantor PT TSM guna menindaklanjuti kasus penyegelan beberapa kios milik mereka akibat pembayaran restribusi (uang sewa) yang belum lunas.

Diketahui, PT TSM merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang bertugas mengelola pasar di seluruh wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan.

Sebelumnya, pada Jumat (2/2/2018) telah melakukan penyegelan kios di pasar Sigalangan Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapsel dengan cara menggembok kios. Kemudian pada Sabtu (3/2/2010) penyegelan dengan cara yang sama dilanjutkan ke Pasar Huta Tonga yang juga berada di Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapsel.

Defri Siregar selaku sekretaris PT TSM yang ditemui awak media terkait penyegelan tersebut pada Sabtu (3/2/2018) menjelaskan bahwa, tindakan penyegelan yang dilakukan PT TSM sebagai bentuk peringatan kepada para pedagang yang menunggak pembayaran restribusi.

“Terpaksa kita lakukan penyegelan sebagai bentuk peringatan tegas kepada para pedagang di ke dua pasar yang menunggak pembayaran restribusi, kita sudah lakukan penagihan secara baik-baik dengan mendatangi para pedagang. Namum pedagang kurang menanggapinya dan berdalih belum ada uang karna jualan belum laku,” jelas Defri.

Kemudian, pihak PT TSM dan para pedagang menjadwalkan perundingan untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut pada Senin (5/2/2018).

Sesampainya di kantor PT TSM, para pedagang ditemui oleh sekretaris PT TSM Defri Siregar, para pedagang mengatakan hanya mau menemui Hamdan Nasution selaku direktur PT TSM. Karena sesuatu hal, Hamdan sedang tidak berada di tempat.

“Jika saudara-saudara tetap ingin bertemu dengan Pak Hamdan, diharapkan agar saudara-saudara bersabar karena beliau sedang ada kegiatan lain,” ucap salah seorang perwakilan dari PT TSM.

Setelah menunggu berjam-jam, sekitar pukul 15.00 akhirnya Hamdan Nasution datang dan pertemuan dengan para pedagang pun digelar. Yusuf Siregar dan Yusuf sebagai perwakilan pembicara dari pedagang didampingi beberapa pedagang masuk kedalam ruang rapat di kantor PT TSM.

Dari pantauan media, rapat yang digelar tersebut berlangsung alot. Pihak pengelola tetap bersikukuh tidak akan membuka segel dari kios sebelum pedagang melunasi sewa kios mereka.

“Kita tidak akan membuka segel dari kios sebelum reatribusi di lunasi, hal ini sesuai dengan pasal-pasal yang tertera pada Peraturan Daerah (Perda) dan Perbup (Peraturan Bupati) yang telah di sepakati oleh pihak pengelola dan penyewa pada surat sewa menyewa atau pun kontrak,” tegas Hamdan.

Sementara dari puhak pedagang menharapkan kebijakan dari pengelola agar mempertimbangkan pembukaan segel, sebab akibat penyegelan tersebut, pedagangpun tidak dapat menjalankan usahanya.

“Jika segel tersebut tidak dibuka, bagaimana kami menjalankan usaha kami? Jika kami tidak berusaha, dari mana kami mendapatkan uang untuk biaya hidup sehari-hari dan membayar restribusi,” ucap sebagian pedagang.

Setelah perdebatan selama hampir dua jam, suasanapun sempat memanas akibat perdebatan yang belum juga menghasilkan jalan keluar. Saling adu pendapat dengan Volume suara yang meninggi dari kedua belah pihak membuat para pedagang yang berada di luar mencoba merangsek masuk ke dalam ruang pertemuan, bahkan tiga kaca nako kantor PT TSM pecah akibat aksi saling dorong antara warga dan Sat Pol PP. Namun hal ini tidak sampai berlanjut ke tindakan yang lebih anarkis, suasana dapat diatasi setelah Yusuf keluar menenangkan para pedagang.

Sekira pukul 17.30, akhirnya titik tengah dari permasalaham pun dapat ditemukan. Pihak pengelola pasar PT TSM dan pedagang membuat surat perjanjian yang di antaranya, pedagang bersedia mengganti segala kerusakan yang terjadi saat pertemuan seperti kaca nako dan pihak PT TSM bersedia membuka segel dengan syarat satu bulan setelah surat perjanjian yang dibuat para pedagang harus melunasi pembayaran restribusi yang masih menunggak.

“Apabila para pedagang tidak memenuhi apa yang tertera dalam surat perjanjian yang telah disepakati ini, maka dengan terpaksa kami harus membuat tindakan kembali terhadap para pedagang dan tidak menutup kemungkinan menyegel kembali kios yang masih menunggak,” tegasnya.

[Sumber]

What's Your Reaction?

Suka Suka
0
Suka
Gasuka Gasuka
0
Gasuka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Bodoamat Bodoamat
0
Bodoamat
Keren Keren
0
Keren
Sedih Sedih
0
Sedih
Nokomen Nokomen
0
Nokomen
Muntah Muntah
0
Muntah
Marah Marah
0
Marah
Sipirok.net

Sipirok adalah salah satu kecamatan, sekaligus pusat pemerintahan Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Indonesia. Jarak ibu kota Medan ke Sipirok sekitar 356 km, atau sekitar 8- 9 jam dengan transportasi darat.

Berita terkait