Berita Tabagsel

CO-MAPRO Wek II Batangtoru Tapsel ‘sulap’ sampah jadi bernilai ekonomis

Serah terima jual-beli kompos hasil olahan CO-MAPRO sebanyak 20 ton dengan Tambang Emas Martabe, Kamis (18/8). (RakyatSumut)

TapselTambang EmasTingkatkan derajat petani, tambang emas Martabe Tapsel gelar karya tani mandiri MartabeTingkatkan derajat petani, tambang emas Martabe Tapsel gelar karya tani mandiri memberikan dukungan kepada para pemuda dan pemudi atau Naposo Nauli Bulung (NNB) Kelurahan WEK 2, Kecamatan Batang ToruJembatan Trikora Batang Toru Tapsel jadi pembuangan sampah, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) dalam memanfaatkan sampah organik dari Pasar Batangtoru, sehingga bernilai ekonomis dengan mengolahnya jadi kompos.

pembatas

Program pengembangan masyarakat yang dimulai sejak Mei 2016 di Rumah Kompos yang dikoordinir Community Mandiri dan Produktif (CO-MAPRO) Kelurahan WEK 2 ini telah berhasil memanfaatkan sampah organik Pasar Batangtoru menjadi kompos dengan potensi sampah sekitar 700 kilogram setiap minggunya yang menghasilkan kompos sekitar 200 kilogram.

Disampaikan Manager Community Development Tambang Emas Martabe, Latif Supriadi, melalui program pengelolaan sampah terpadu ini, Tambang Emas Martabe mencoba membangun kesadaran bagi masyarakat bahwa sampah jika dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat ekonomis bagi masyarakat, disamping dapat terpenuhinya kebutuhan pupuk organik untuk program CSR Tambang Emas Martabe khususnya sector pertanian.

“Dengan adanya pemanfaatan sampah untuk pembuatan kompos, jumah sampah di Pasar Batangtoru setidaknya dapat berkurang. Kedepan kami juga ingin mendorong terciptanya bank sampah (sampah anorganik) di Batangtoru,” ucap Latif Supriadi pada acara peluncuran kompos hasil pengelolaan sampah terpadu Rumah Kompos Kelurahan WEK 2, Kamis (18/8) pagi.

Sejak dimulainya program tersebut Mei 2016 lalu, sebut Latif, produksi kompos hasil karya CO-MAPRO tersebut sebagian besar telah digunakan Kelompok Tani (Koptan) yang menjadi binaan Tambang Emas Martabe. “Jumlahnya mencapai 3 ton,” tutur Latif.

Diutarakan Latif, pupuk organik menjadi satu kebutuhan penting bagi petaniTingkatkan derajat petani, tambang emas Martabe Tapsel gelar karya tani mandiri untuk meningkatkan produktivitas hasil budidayanya, karena ketersediaan pupuk dasar yang tepat dan berkualitas di Kecamatan Batangtoru masih sangat terbatas. Hampir sebagian besar pupuk dasar organik didatangkan dari luar Batangtoru, dan inipun masih dalam kotoran ternak yang belum matang.

Dimana, pembuatan kompos tidak hanya dilakukan Rumah Kompos. Pada tahap awal, 7 rumah di Kelurahan WEK 2 juga menerapkan tekhnik pengomposan skala rumah tangga.

Kompos produksi rumah tangga tersebut kemudian akan ditampung oleh Rumah Kompos. Tantangan yang dihadapi Rumah Kompos sampai saat ini adalah sampah yang berada di Pasar Batangtoru yang belum dipilah-pilah antara sampah organik dan anorganik.

“Kedepannya akan dilakukan kerjasama antara Rumah Kompos, Kecamatan Batangtoru dan Kepala Pasar Batangtoru untuk memilah sampah organik dan anorganik, sehingga jumlah sampah yang dijadikan kompos akan semakin banyak,” pungkasnya.

Selain Rumah Kompos, Tambang Emas Martabe di Kelurahan WEK 2 juga mendorong budidaya sayur-mayur metode akuaponik di 7 rumah tangga dan usaha pemijahan bibit ikan lele.

Camat Batangtoru, Ahmad Raja Nasution dalam sambutannya di acara tersebut berharap pengelola Rumah Kompos bisa bekerjasama dengan pihak pengelola pasar dan masyarakat dalam pemanfataan sampah yang ada sehingga bisa bernilai ekonomis.

Ia juga berharap CO-MAPRO bisa membangun system yang terpadu terutama dengan masyarakat sehingga kedepannya sampah yang hendak dikelola Rumah Kompos sudah terpisah antara sampah organik dengan anorganik.

Menurutnya, dengan diluncurkannya hasil produksi Rumah Kompos tersebut merupakan langkah awal dalam memanajemen sampah yang ada yang selama ini yang dibiarkan begitu saja bahkan malah menjadi efek negatif bagi lingkungan masyarakat, namun akhirnya bisa bernilai ekonomis.

Semangat para NNB tersebut dikatakan Camat tentunya harus didukung oleh masyarakat juga. Karena, bisa saja kedepannya CO-MAPRO akan kesulitan untuk mendapatkan bahan baku sampah sebagai olahan kompos.

Tidak itu saja, sebut Camat, pekan depan pihaknya akan membahas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Aek Sirara, sehingga dari TPA tersebut diperoleh sampah organik dan anorganik yang jelas sekali bisa bernilai ekonomis yang dapat menambah penghasilan masyarakat, terbukanya lapangan kerja baru, terutama tumbuhnya kelompok-kelompok kreatif di tengah-tengah masyarakat.

Disamping bernilai ekonomis, ungkapnya, apa yang dilakukan CO-MAPRO dari sisi lingkungan dan kesehatan tentunya sangat baik bagi masyarakat sekitar. “Mudah-mudahan kedepan bisa terbangun juga Bank Sampah dan manfaatnya bisa membantu ekonomi masyarakat,” ungkapnya.

Turut memberikan kata sambutan mewakili Kadistan Tapsel dan lainnya. Hadir pada kesempatan tersebut Kapolsek Batangtoru, mewakili Danramil Batangtoru serta udangan lainnya.

Dalam acara tersebut secara simbolis Tambang Emas Martabe melakukan transaksi jual-beli kompos produksi Rumah Kompos sebanyak 20 ton. Disamping memang kebutuhan pihak Tambang Emas Martabe, itu juga sebagai upaya motivasi bagi pengelola dalam menunjang aktifitasnya.

Sekilas, dalam mengolah sampah menjadi kompos, CO-MAPRO telah dipandu tim Tambang Emas Batangtoru baik bahan baku campuran penguraiannya, pembuatan bakteri pengurainya, pencacahan sampah, proses pengomposan hingga siap panen serta packing. (Borneo /rakyatsumut.com)



TERPOPULER BULAN INI

To Top
Berita Rekomendasi:close