Berita Tabagsel

Peralihan iklim di Tapsel, waspdai angin kencang dan potensi puting beliung

Salah satu rumah warga yang hancur akibat terpaan angin puting beliung dan hujan es di wilayah Kampung Hutaimbaru, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan. (Oktober 2014, Metrosiantar)

Tapsel – Memasuki Pancaroba antara musim kemarau dan musim penghujan beberapa hari terakhir ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan GeofisikaKawasan Sumut rawan longsor (BMKGKawasan Sumut rawan longsor) Wilayah I Medan menyebutkan, agar mewaspadai angin kencangPohon tumbang karena angin kencang, jalan lintas Parausorat-Baringin Sipirok tidak bisa dilewati dan potensi puting beliung.

pembatas

Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah I Medan Sunardi Skom, Rabu (24/8), kepada Metro Tabagsel menerangkan, untuk wilayah Tapanuli Bagian Selatan juga akan mengalami peralihan iklim dari musim kemarau menuju musim penghujan. Sama seperti pada wilayah Sumatera Utara secara keseluruhan.

Peralihan itu, kata Sunardi, untuk saat ini masih menimbulkan pergerakan angin yang memiliki kecepatan 10 sampai 15 Knot.

“Kalau angin masih kecepatan 10 sampai 15 Knot. Saat ini di termonitor 12 Knot ini masih. Hanya karena ini kan masa transisi, masa pancaroba antara mau menuju hujan. Jadi masih ada panas, hujan lagi,” ungkapnya meneragkan fenomena angin kencang yang terjadi beberapa hari terakhir ini.

Untuk potensi merusak, sepanjang angin pada kecepatan 15 Knot, Sunardi yang dihubungi melalui sambungan selular mengatakan, tahap itu masih aman meski memungkinkan merusak beberapa objek yang rapuh.

“Kalau posisi 15 Knot tidak, hanya nanti ada yang di atas 20 Knot itu baru merusak. Yang biasa disebut puting beliung itu kemunginan potensi terjadi ada. Karena iklim atau gravitasi dari kemarau ke hujan, ya pancaroba,” jelasnya seraya menambahkan, harus ada kewaspadaan kemungkinan angin kencang berubah menjadi badai dan puting beliung. (mag-1 /metrotabagsel.com)


TERPOPULER MINGGU INI

To Top
Berita Rekomendasi:close