Sipirok

Curah Hujan di Sipirok Tinggi Berkah Bagi Petani

SIPIROK – Tingginya curah hujan akhir-akhir ini di wilayah Tapanuli Selatan menjadi berkah bagi warga, terutama yang bermata pencaharian bertani lahan basah (sawahLebih dari 50 hektar sawah di Tapsel rusak & gagal panen akibat bencana banjir). Dengan curah hujan yang cukup tinggi, ternyata mampu memenuhi kebutuhan air bagi petani dalam menjalankan aktivitas pertaniannya, terutama yang ada di Kecamatan Sipirok dan sekitarnya.

pembatas

Ansari Harahap, salah seorang petani di Mandurana, Desa Situmba Julu, Kecamatan Sipirok, Kamis (5/12), curah hujan yang cukup tinggi saat ini sangat membantu ketersediaan air dalam pengolahan lahan pertanian. “Ini sudah biasa setiap tahun, seluruh petani selalu memanfaatkannya untuk mengolah lahan pertanian masing-masing dan menyemai bibit padi,” ucapnya.

Dikatakan, ketersediaan air untuk lahan pertanian (sawah) masih saja meemiliki ketergantungan pada curah hujan. Sehingga musim hujan pada November sampai Januari mendatang, kerap dijadikan patokan musim tanam.

“Dari dulu sudah menjadi kebiasaan pada bulan-bulan seperti ini curah hujan cukup tinggi. Sehingga hal itu dijadikan waktu yang tepat mengolah lahan sebelum ditanami,” sebutnya.
Disebutkan juga, untuk musim tanam raya (taon godang)  kali ini, dapat dipastikan petani masih mengandalkan jenis padi lokal. Dengan alasan, sudah terbiasa cara perawatan dan hasil lebih maksimal, serta harga lebih tinggi.

“Dapat dipastikan musim tanam raya (taon godang) seperti ini, seluruh petani memakai bibit lokal,” katanya sambil menerangkan bibit padi tersebut berjenis sikasumbo (6 bulan), siporang (4 bulan), silatihan (5 bulan) dan jenis lokal lainnya.

Amatan METRO kemarin di beberapa lokasi persawahan di Kecamatan Sipirok, Tapsel, antusias warga meningkat dalam mengerjakan lahan masing-masing. Bahkan sebagian besar lahan persawahan sudah dikerjakan dan di beberapa titik tampak persemaian bibit padi yang menunggu untuk ditanam.

Sementara warga lain Ismail (50) mengatakan, dengan curah hujan yang cukup tinggi akhir-akhir ini, menjadi berkah tersendiri bagi mereka selaku petani. “Curah hujan yang cukup tentu sangat membantu, karena pengairan di sinikan belum maksimal dan pertanian masih tergantung dengan curah hujan,” ujarnya.

Kepala Badan Palaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Tapsel Ir Bismark Muaratua Siregar pada METRO mengatakan, luas areal sawah dengan irigasi teknis dan non teknis di Tapsel mencapai 21 ribu hektare. Dimana 90 persen di antaranya telah menerapkan pola tanam modern dan jenis tanaman hibrida, sedangkan 10 persen lagi masih mengandalkan tanaman jenis lokal yang tersebar di wilayah Kecamatan Aek Bilah, Arse, SDH (Saipar Dolok Hole) dan Sipirok.
“Rata rata 6 ton per hektare hasil pertanian di Tapsel.

Ada juga yang kita bina mencapai hasil yang cukup maksimal, yaitu 10,5 ton per hektare,” sebutnya sambil menjelaskan bahwa lahan sawah yang benar-benar merupakan tadah hujan hanya berkisar 5 persen saja. (ran) (metrosiantar)



TERPOPULER BULAN INI

To Top
Berita Rekomendasi:close