Sipirok

Sirungguk, hiburan rakyat Sipirok yang masih merakyat

Sirungguk merupakan sarana hiburan rakyat yang masih merakyat. [Amran Pohan/Metro Tabagsel]

Jangan sampai lekang oleh kemajuan zaman. Kelestarian hiburan rakyat harus terus dipertahankan. Salah satunya, sirungguk atau badut yang dibalut dengan rerumputan dan ijuk.

pembatas

Sirungguk merupakan salah satu sarana hiburan rakyat yang terus merakyat, khususnya pada Bulan Suci Ramadahan, dibeberapa desa di Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapsel.

Sambil menunggu beduk Magrib, masyarakat yang menjalankan puasa, khususnya anak hingga remaja, menghabiskan waktu bersama sirungguk.

Asyik, lapar dahaga tak terasa. Puasa pun ceria dan Insa Allah dapat pahala. Apa dan bagaimana sirungguk itu rupanya? Mari kita simak bersama!

Bisa dikatakan warisan turun temurun, Sirungguk merupakan hiburan bagi rakyat. Uniknya, Sirungguk akan hadir pada saat menjelang buka puasa dan juga lebaran.

Pada saat puasa, hiburan tersebut akan hadir di tengah masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa, terutama menjelang waktu berbuka puasa tiba.

Pada saat lebaran, hiburan badut orang dari daun dan ijuk itu akan memberi hiburan tersendiri, dan mengundang keramaian dan mengobati rindu terutama bagi para perantau yang sedang berkumpul dengan keluarga.

“Keberadaan sarana hiburan tradisional tersebut ternyata masih tetap mampu mendatangkan manfaat sebagai hiburan bagi warga sehingga tetap dilestarikan sebagai hiburan rakyat sampe sekarang,” ungkap Nur (56) salah seorang perantau.

Menurutnya, sejak dulu sirungguk tersebut telah menjadi sarana hiburan terutama menjelang berbuka puasa. Sehingga kehadiran sirungguk saat ini, seolah dapat mengembalikan masa kecilnya dulu saat bermain di kampung halaman.

“Ternyata masih ada dan tetap seperti dulu. Jika ada sirungguk puasa jadi lebih ringan, mudah-mudahan tetap dilestarikan,” ujar perempuan yang mengaku menetap di Jabodetabek ini.

Untuk diketahui, sirungguk merupakan nama jenis rumput atau belukar yang biasa digunakan membalut orang atau gerbang (gaba-gaba) untuk kepentingan acar adat.

Sehingga, pemberian nama sirungguk pada badut orang tersebut awalnya karena dibalut dengan rerumputan atau belukar bernama sirungguk. Maka badut itu dinamakan sirungguk sesuai dengan nama reruputan tersebut.

Beberapa warga setempat mengatakan, sirungguk merupakan hiburan rakyat secara turun temurun. Dan hingga kini masih dipertahankan sekalipun telah banyak jenis hiburan yang lebih modern dan canggih.

Tokoh masyarakat yang juga tokoh adat dari Sipirok Mangaraja Hurning (79) menjelaskan, dari dulu siringguk sudah ada. Dan menjadi hiburan bagi warga yang berpuasa. Kehadirannya memang sontak mengundang keramaian di seluruh desa. “Maklum saat itu hiburan masih terbatas,” ucapnya.

Nah, jika saat ini sirungguk masih ada sebutnya, itu pertanda generasi muda tetap melestarikan hiburan rakyat yang diwariskan pendahulunya.

“Mudah-mudahan tetap dijadikan hiburan terutama pada bulan puasa dan hari besar, karena hiburan rakyat seperti ini merupakan kebanggaan,” sebutnya.

*Ditulis oleh Amran Pohan di MetroTabagsel



TERPOPULER BULAN INI

To Top
Berita Rekomendasi:close