Sipirok

Sutan Pangurabaan Pane Juragan Media Cetak dari Sipirok

Oleh: Sahat P. Siburian. Bagi kita, nama Sutan Pangurabaan Pane barangkali kurang populer. Tapi Sanusi Pane dan Armijn Pane masih cukup tenar, terlebih di kalangan peminat sastra. Para aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) niscaya akrab dengan nama Lafran Pane. Ia tercatat sebagai tokoh utama pendiri HMI pada 5 Februari 1947.

pembatas

Ketiga tokoh tersebut, Sanusi Pane, Armijn Pane dan Lafran Pane, adalah anak dari Sutan Pangurabaan Pane. Berasal dari desa (huta) Pangurabaan, terletak di jalur lintas Sumatra, sekitar enam kilometer dari pusat kota Sipirok ke arah utara.

Desa tersebut, pada masa kolonial Belanda tergabung dalam daerah adat (luhat) Sipirok, onder afdeeling Angkola-Sipirok, ibu kota di Padang Sidempuan. Kini desa Pangurabaan berada dalam struktur kecamatan Sipirok, kabupaten Tapanuli Selatan.

Sutan Pangurabaan Pane, lahir tahun 1885 (?) di desa Pangurabaan. Ayahnya adalah adik dari Syekh Badurrahman Pane, seorang ulama besar dan tersohor di Sipirok. Sebagai keluarga ulama, ia menyandang status sosial yang cukup terpandang. Tapi status ini membuatnya ‘memikul beban’ moral-spiritual. Ia mesti menjaga diri agar tidak jadi batu sandungan bagi wibawa dan reputasi keluarga.

Sosok Sutan dikenal cekatan, ulet, disiplin, pekerja keras, arif, dan taat beragama. Ia berhasil membuat dirinya meraih kesempatan mengikuti pendidikan di sekolah-sekolah milik Belanda.

Hingga kemudian, ia mengemban profesi sebagai guru dan kepala sekolah di Hollandsch-Inlandsche Scholen (HIS), berbahasa Belanda, di Padangsidempuan. Tugas ini menempatkan Sutan dalam jajaran birokrasi pendidikan Hindia Belanda.

Kaya Kreativitas

sutan-pangurabaanKelengkapan data biografis dan foto dokumentasi Sutan Pangurabaan Pane sulit diperoleh. Bahkan dalam rubrik “Sedikit Tentang Saya” di laman Prof. Dr. Lafran Pane, dosen Universitas Negeri Yogyakarta, lafran-pane. blogspot.com, diekspos Juni 2012, tidak tersaji informasi memadai.

Padahal kreativitas Sutan Pangurabaan di arena sosial Tapanuli cukup menarik dicermati. Alur aktivitas yang digeluti terbilang spesifik dan unik. Berawal dari guru sambil berdagang hasil-hasil bumi, kemudian beralih menekuni dunia jurnalistik dan sastra (sejak 1910-an), wartawan surat kabar “Poestaha” (sejak 1914), pendiri Muhammadiyah di Sipirok (1921).

Lalu mendirikan dan memimpin surat kabar “Sipirok-Pardomoean”, berbahasa Angkola, di Sipirok (sejak 1927), membentuk kelompok musik tradisional uninguningan (1920-an), juragan media cetak di Sibolga dan di Sipirok (1930-an), pendiri dan pemimpin redaksi surat kabar “Surya”, berbahasa Indonesia, di Sibolga (sejak 1931).

Lantas mendirikan perusahaan transportasi (bus) Fa. Sibualbuali di Sipirok, pada 1 Januari 1937. Ia mengadopsi nama gunung Sibualbuali di Sipirok jadi nama sarana transportasi umum. Hal ini barangkali sengaja dilakukan untuk mempopulerkan sepercik penanda identitas desa kelahirannya.

Sejak awal bus tersebut telah melayani rute antar-daerah. Dari Sipirok menuju Padang Sidempuan, Sibolga, Tarutung, Pematangsiantar, Medan, Pekanbaru, Palembang, Jambi, Lampung. Bus Sibualbuali disebut Mahmulsyah Daulay (2012), dalam akhirmh.blogspot.com, sebagai pionir bus jarak jauh di Indonesia.

Kisah masa silam bus Sibualbuali masih terekam dalam memori kolektif orang Batak. Terutama melalui lagu “Motor Batang Gadis” yang kini kembali dipopulerkan oleh Tetty Manurung.

Sutan Pangurabaan Pane aktif pula dalam pergerakan nasionalis Indonesia. Partisipasi Sutan di pentas politik nasional dicatat sejarawan Prof. Dr. Agussalim Sitompul dalam buku “HMI dalam Pandangan Seorang Pendeta: Antara Impian dan Kenyataan”, terbitan Gunung Agung, Jakarta, 1984, halaman 32.

Ia pernah menjadi pimpinan Partai Indonesia (Partindo, 1913-1936) cabang Tapanuli, dan pengurus Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo, 1937-1942) di Tapanuli. Kegiatan politik ini membuat Sutan bertemu dan bersahabat dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional, seperti Adam Malik, Mr. Muhammad Yamin, Gatot Mangkupraja, dan lain-lain.

Rangkaian fakta di atas merepresentasikan sosok Sutan Pangurabaan Pane sebagai elit intelektual dengan ragam capaian dan profesi. Ia menggeluti bidang pendidikan, keagamaan, ekonomi, media cetak, dan politik dalam konteks zaman kolonial. Banyak kegiatan dilakukannya secara otodidak.

Semua itu membuat Sutan Pangurabaan Pane pantas disebut sebagai tokoh yang kaya kreativitas dan berdedikasi bagi bangsanya. Kiprahnya wajar didokumentasikan dalam sejarah perjalanan Tapanuli.

Juragan Media Cetak

Pada tahun 1931, Sutan Pangurabaan Pane mendirikan usaha percetakan dan penerbitan di Sibolga. Diberi nama “Partopan Sibolga”. Nama ini selaras dengan nama usaha percetakan ‘Partopan Tapanoeli’ di Padangsidempuan, berdiri 10 Maret 1919, dikelola oleh Cyrus Sipahutar.

Kosakata ‘partopan’ dalam bahasa Batak Angkola, menurut Sekjen GKPA Pdt. Togar Simatupang, MTh., memiliki tautan dengan istilah ‘parluhat’, menunjuk pada suatu daerah tertentu. Frasa ‘partopan Sibolga’ berarti orang-orang yang berada atau berasal dari Sibolga.

Sekitar tahun 1934, Sutan Pangurabaan Pane mengelola usaha penerbitan di Sipirok diberi nama “Peroesahaan Indonesia”. Partopan Sibolga dan Perusahaan Indonesia memproduksi berbagai jenis media cetak, seperti surat kabar, majalah, buletin, brosur, dan buku-buku.

Semua produk tersebut merupakan media komunikasi massa. Argumen ini mengacu pada pandangan ahli komunikasi, John Vivian, dalam buku “Teori Komunikasi Massa”, terbitan Kencana, Jakarta, 2008, halaman 4-9. Vivian mengkategorikan buku sebagai media komunikasi massa, karena karakteristik utama media massa melekat pada buku. Yakni, jangkauan yang luas, sumber informasi, sumber hiburan, dan forum persuasi.

Sutan Pangurabaan Pane tidak hanya mengerjakan pesanan para pelanggan. Tapi ia aktif pula mempublikasikan karya tulisnya. Pada tahun 1910-an hingga 1930-an, ia telah menerbitkan sejumlah buku. Dicetak dan diterbitkan Partopan Tapanuli di Padang Sidempuan, Partopan Sibolga, dan Perusahaan Indonesia di Sipirok.

Ulasan dan daftar buku-buku karya Sutan dideskripsikan Susan Rodgers (2012), profesor antropologi di Sekolah Tinggi Salib Kudus, Massachusetts, Amerika, dalam esai bertajuk “Sutan Pangurabaan Rewrites Sumatran Language Landscapes: The Political Possibilities of Commercial Print in the Late Colonial Indies”. Tulisan ini dapat ditemukan dalam situs www.kitlv-journals.nl.

Semua karya Sutan Pangurabaan Pane diterbitkan secara mandiri tanpa sponsor dari institusi pemerintah kolonial. Dengan cara ini, ia niscaya jadi lebih leluasa menuangkan ide dan gagasannya. Ia sekaligus seakan hendak menunjukkan bahwa orang Batak dapat menerbitkan buku-buku walaupun tanpa subsidi rezim penguasa.

Keberadaan Partopan Sibolga dan Perusahaan Indonesia memposisikan Sutan Pangurabaan Pane sebagai seorang ‘juragan media cetak’ pada masa kolonial. Peran ini disinggung Ethan Mark (2006), sejarawan dari Universitas Leiden, Belanda, dalam kajian: “Asia’s” Transwar Lineage: Nationalism, Marxism, and “Greater Asia” in an Indonesian Inflection”, dapat diakses di openaccess.leidenuniv.nl.

Mark mengidentifikasi Sutan Pangurabaan Pane sebagai “kapitalisme cetak (print capitalism)” di Tapanuli. Sebutan ini mengacu pada konsepsi Benedict Anderson. Ia memformulasikan istilah print capitalism bukan dalam perspektif bisnis, melainkan lebih pada kontribusi komoditas cetakan bagi pencerahan dan perwujudan transformasi sosial.

Menurut Anderson, dalam buku “Imagined Communities: Komunitas-Komunitas Terbayang”, terbitan Insist, Yogyakarta, 2001, halaman 55-70, percetakan dan penerbitan menjadi asal-muasal kesadaran nasional suatu bangsa. Melalui fasilitas percetakan, para penguasa tidak bisa lagi selalu mengekang penyebaran informasi yang kritis dan mencerdaskan publik.

Pada simpul itu, motif utama Sutan Pangurabaan Pane jadi juragan media cetak tidak berorientasi komersial belaka. Tapi lebih dimaksudkan untuk memfasilitasi penyediaan bahan-bahan bacaan bagi warga Tapanuli, yang kala itu masih dalam belenggu kolonial.

Menjadi juragan media cetak dapat dilihat sebagai suatu strategi Sutan Pangurabaan Pane. Melalui media cetak, ia berniat mempengaruhi cakrawala pemikiran khalayak. Terlebih agar semakin cerdas menyikapi dampak buruk modernitas dan membidas dominasi kolonial.

Kiprah Sutan Pangurabaan Pane bukan sekadar turut mengukir perjalanan sejarah industri percetakan dan penerbitan media cetak di Tapanuli. Tapi juga pantas jadi inspirasi bagi para pengusaha dan juragan media cetak masa kini.

Terlebih agar mereka tidak melulu terfokus untuk meraup keuntungan finansial. Tapi hendaklah menegaskan suatu misi demi penguatan rakyat yang termarginalkan. Antara lain dengan memfasilitasi pengadaan bahan bacaan bermutu dengan harga yang terjangkau. Semoga saja! ***

Penulis adalah anggota Lembaga Pemberdayaan Media dan Komunikasi (LAPiK), Medan



TERPOPULER BULAN INI

To Top
Berita Rekomendasi:close