Wisata

Aek Parsariran, pemandian alam di Tapsel yang kurang terkelola

Aek Parsariran di Batang Toru, Tapsel

Parsariran merupakan salah satu wisata permandian kebanggaan masyarakat di Tapanuli Selatan. Lokasinya berada di Batangtoru berjarak berkisar 30 kilometer atau setengah jam naik kenderaan dari Kota Padangsidimpuan. Air sungainya jernih dan dipenuhi batu-batuan besar membuat orang betah mandi bersih ditempat ini. Sungainya sedikit deras tapi tidak begitu dalam membuat anak-anak senang bermain dan mandi di Sungai ini.

pembatas

Saat liburan panjang, Parsariran selalu ramai di kunjungi warga masyarakat umumnya yang berkeluarga. Posisinya yang persisi berada di pinggir jalan lintas Padangsidimpuan-Sibolga ini dijadikan juga sebagai peristirahatan sementara warga yang bereakreasi ke pantai Sibolga dan mau pulang ke Sidimpuan. Bahkan, tidak sedikit yang khusus berkunjung langsung ke tempat ini hanya untuk mandi dan menghabiskan waktu seharian bersama keluarga.

“Tidak puas rasanya kalau tidak singgah sebentar di Aek Parsariran hanya untuk mandi bersih maupun makan setelah menempuh perjalan antara 2-3 jam dari Sibolga,” kata Marwan (38) salah satu pengunjung di Aek Parsariran, Minggu (2/1). Tempat ini menjadi salah satu lokasi wisata pavorit bagi keluarganya karena airnya yang bersih, kalah jauh dibanding dengan Air Aek Sijornih (Lokasi Wisata Parmandian lainnya di Tapsel) yang kalau dipakai mandi badan kita berkapur dibuatnya.

“Tempat permandian Aek parsariran sangat tepat bagi keluarga yang masih memiliki anak kecil, tempat mandi dan makan bareng bersama di atas sungai,” kata marwan.

Deburan Aek Parsariran menjadi daya tarik ingin mandi-mandi dan batuan besar di sungai ini sebagai tempat bersantai dan makan bersama diatasnya, rasanya lebih nikmat dibanding makan dirumah makan. Tinggal pilih tempat karena disepanjang bibir sungai yang memanjang ini sudah tersedia pondok, warung, ruang ganti pakaian, musholla, dan tempat lainnya.

Biasanya pengunjung hanya dikenakan uang parkir yang tidak mahal, dipondok yang tersedia juga bisa memesan makan dari warung yang ada, pokoknya semuanya lengkap mulai ikan mas bakar, udang goreng dan lain-lainnya tergantung selera. Selain mandi-mandi, kawasan ini juga bisa menyediakan pelampung bagi anak-anak seperti bebek, angsa hanya dibandrol antara Rp.30 ribu-Rp.50 ribu per jenisnya.

Hal senada juga di akui Nurlaila (37) salah satu ibu rumah tangga, mengatakan permandian Parsariran ini masih yang terdepan soal kebersihan sungainya. Sungainya belum tercemar karena langsung dari hutan yang ada diatasnya dan diatas belum banyak dipergunakan orang sebagai MCK sehingga airnya tetap jernih dan bersih. Pokoknya mandi di sungai Parsariran ini badan terasa bersih, sambil kita makan bersama keluarga di atas bebatuan,”katanya.

Dia berharap lokasi wisata ini tetap dijaga kelestariannya agar sungainya tidak tercemat dan sungainya mengering akibat dampak perluasan kebun masyarakat dan penebangan hutan di sekelilingnya. Sejak berdiri dan beroperasinya penambangan emas di sana, dan sampai kini masih maraknya pembalakan hutan dikoordinir oknum-oknum aparat Dinas Kehutanan Sumut serta anggota dewan maupun raja perambah hutan Tapsel-Madina, Aseng Naga, lokasi pemandian itu ‘selangkah’ lagi tinggal kenangan.

Air yang bening dengan berbagai jenis ikan yang dilunya bisa didapati warga maupun nelayan dari sungai pemandian Parsariran, kini boleh dibilang tak ada lagi. Zat kimia dan berbagai limbah dari penambangan emas PT Agincourt Resources, memusnahkan semua flora dan fauna di sana. Jangankan untuk pemandian, air dari sungai tersebut untuk mencuci pakaian pun kini mulai tak layak.

 Pelampung Pelampung karet banyak di jual disisi sungai Parsariran ini. Pengunjug yang anaknya ingin berpelampung tidak repot membawa dari rumah karena di sini telah tersedia dan hanya dibandrol Rp30 Ribu-Rp.50 Ribu per buahnya. (medanbisnis/ikhwan nasution)


Pelampung Pelampung karet banyak di jual disisi sungai Parsariran ini. Pengunjug yang anaknya ingin berpelampung tidak repot membawa dari rumah karena di sini telah tersedia dan hanya dibandrol Rp30 Ribu-Rp.50 Ribu per buahnya. (medanbisnis/ikhwan nasution)

“Kain cepat koyak dan ada brcak-bercak kuning merusak kekuatan pakaian yang kita cuci disana,” terang Saripah (42), warga setempat, sore kemarin di hari kedua Ramadhan 2016. Padahal, beberapa tahun lalu, selain jadi favorit warga Tapsel khususnya sebagai tempat wisata di hari libur, pemandian Parsariran juga merupakan tempat yang cukup ramai guna marpangir (membersihkan diri menjelang hari H Ramadhan).

“Belakangan ini mada ada lagi orang marpangir (mandi pakai ramuan tumbuh-tumbuhan) ke mari. Biasnya dulu ya tempat marpangir lah di sini pas besok mau puasa,” timpal Rani (38), teman Saripah. Selain air yang telah kotor berbagai jenis zat kimia yang dibuang pihak ambang Emas Martoba, dan gundulnya hutan dibabat Aseng naga bekerja sama dengan pihak PT Wilmar pimpinan Saut Martua sitorus selaku pemilik saham 6 persen di PT Agincourt Resources, debit air tersebut juga kini hanya layak untuk pemandian bocah dibawah usia 10 tahun.

“Coba saja turun dan ukur, sekrang dalam airnya juga paling tinggi tak mencapai inggang orang dewasa. Rata-rata cuma sedengkul,” terang Saripah, mengaku memilih mencuci pakaian dan piring keluarganya pakai air hujan atau sumur, ketimbang pakai air sungai Parsariran yang berada di jalan lintas Sibolga-kota Padangsidimpuan. (ikhwan nasution/medanbisnisdaily.com, nas/medanseru.net)



TERPOPULER BULAN INI

To Top
Berita Rekomendasi:close