Wisata

Mesjid Sri Alam Dunia Sipirok, rumah ibadah muslim pertama di Tapsel

Masjid Sri Alam Dunia Sipirok Godang di Kabupaten Tapsel (Metrosiantar)

Masjid Sri Alam Dunia di Kelurahan Sipirok Godang, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli SelatanMasjid di sekitar kantor Pemkab Tapsel butuh pembenahan (Tapsel) merupakan masjid bersejarah kebanggaan masyarakat. Sebab, masjid yang dibangun dengan semangat gotong royong pada tahun 1920-an dan diresmikan tahun 1926 itu, memiliki ciri khas tersendiri.

pembatas

Tersebutlah Masjid Sri Alam Dunia Sipirok Mashalih sebagai rumah ibadah umat muslim pertama di wilayah Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Pada 16 Juli 1926, masjid ini tak ubahnya musollah, dengan bangunan yang amat kecil. Berbahan papan dengan model bangunan rumah panjang. Lantaran pemeluk Islam, kala itu, terus meningkat, desakkan akan rumah ibadah makin memaksa.

Atas prakarsa Syekh Abdul Manan Siregar, para raja dan kaum syekh masa itu pun bersatu membangun masjid yang megah dari bata dan kayu berukuran sepelukan orang dewasa. Pembangunan akhirnya rampung pada 16 Juli 1933. Masjid pun terlihat megah dengan arsitektur tinggi, memiliki enam menara, berpilar beton tinggi di pintu utama menuju masjid, dan empat penyanggah kayu berukuran sepelukkan orang dewasa.

Hawa dingin menyergap di dalam masjid, dengan ruang udara yang lebar. Selain memiliki lima pintu berukuran tinggi, masjid juga memiliki delapan jendela berukuran besar. Seluruh pintu dan jendela diberi cat seragam, hijau. Sedangkan dinding diberi warna putih. Hanya saja, bangunan seluas 21×21 meter persegi, tak juga mampu menampung jemaah yang ingin menunaikan salat berjamaah.  Seluruh penghuni dari masing-masing desa melaksanakan ibadah di masjid Sri Alam Dunia Sipirok Mashalih. “Ini adalah masjid pertama di Tapanuli Selatan,” kata Arman saat ditemui di lokasi masjid, Jalan Merdeka, Kota Sipirok, Rabu (10/8) siang. Masa itu pulalah, para syekh memberlakukan “larangan” perempuan warga sekitar salat di masjid itu. “Terkecuali tamu perempuan,” ungkap Arman.

Untuk menampung para perempuan, dibangunkan masjid, disebut Masjidah. Letaknya berada di seberang Masjid Sri Alam Dunia Sipirok Mashalih. Masjidah, kata Arman, hanya untuk perempuan. “Laki-laki dilarang masuk. Harus permisi,” ungkapnya. Di Masjidah, para perempuan di Kota Sipirok melaksanakan salat secara berjamaah. “Imamnya ya perempuan,” tutur Arman.

Larangan masuk ke area Masjidah, menarik untuk ditelisik. Area Masjidah tak hanya dijadikan tempat beribadah. Di areal ini, para perempuan melakukan aktivitasnya, mulai memasak, mencuci hingga mandi. Bagian terbelakang merupakan kamar mandi umum. Skat bangunan yang berada di antara bangunan masjid dan kamar mandi, dijadikan sebagai tempat memasak dan juga mencuci.

Bagian dalam Mesjid Sri Alam Dunia Sipirok

Bagian dalam Mesjid Sri Alam Dunia Sipirok

Arman tak ingat persis sejak kapan Masjidah dibangun. “Itu dibangun untuk ibadah para perempuan. Karena di masjid (Sri Alam) ini tidak cukup,” katanya. Hanya saja, lanjut Arman, larangan itu tak berlaku saat Salat Idul Fitri dan Idul Adha.

Ada beberapa hal menarik yang ditemukan di masjid itu yakni, memiliki lima pintu masuk, yang mana menurut Raja Sojuangon Siregar (53) salah tokoh agama setempat, menandakan Masjid Sri Alam Dunia merupakan milik dan kebanggaan bersama antara warga yang ada di sekitar saat pembangunannnya. Kelimanya; warga Hutasuhut (Kelurahan Hutasuhut), Pangurabaan, Bagas Lombang, Banjar Toba dan Bagas Nagodang.

“Masing -masing desa memiliki pintu tersendiri ketika itu, dan itulah menandakan masjid ini milik dan kebangggaan bersama. Namun, saat ini masing-masing desa tersebut telah memiliki masjid sendiri,” kata Siregar.

Tentang menara yang enam, sambung Siregar, mengaku tak tahu lagi maknanya secara detail namun hanya mendengar penggalan bait lagu yang sering dinyanyikan oleh orang tua yaitu, “Patuan Natigor Raja Beriman, masjidnya besar menaranya enam, hanya ini yang saya ingat, dan kemungkinan pembangunan masjid yang dibangun dengan gotong royong ini ketika Bagas Godang dipimpin oleh Raja Patuan Natigor,” sebutnya seraya menyebutkan makna dari kata Sri Alam Dunia adalah kira-kita kemegahan masjid akan memancar ke seluruh penjuru dan merupakan kebangggaan masyarakat Sipirok.

Warga lainnya Mukli Hasibuan menambahkan, selain sebagai tempat beristirahat dengan suasananya yang sejuk dan teduh, Masjid Sri Alam Dunia juga masih  mempertahankan tradisi membunyikan gong setiap menjelang waktu salat tiba. Setelah gong berbunyi baru dilanjutkan dengan azanIsrael wajibkan masjid di Yerusalem Timur kecilkan suara azan. Beberapa warga bahkan selalu berpatokan pada bunyi tersebut. Bila waktu salat yang tiba, rata-rata akan menghentikan aktivitas kerja untuk sementara, untuk segera menunaikan salat atau sekadar istirahat.

“Ini sudah menjadi kebiasaan sejak dulu, bahkan ketika kita berada di lahan akan dapat mengetahui bahwa waktu salat telah tiba, dan sering kita jadikan patokan waktu,” katanya. (Soetana Monang Hasibuan/Tempo, Amran Pohan/Metrosiantar)



TERPOPULER BULAN INI

To Top
Berita Rekomendasi:close