Wisata

Tor Simago-mago, objek wisata alam Sipirok yang semakin ‘tenggelam’

Objek wisata Simago-mago (Google)

Objek wisata Simagomago di Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan pada tahun 1980-an hingga 1990-an pernah menjadi salah satu objek wisata paling diminati pengunjung dari Tapanuli Bagian Selatan. Namun, saat ini keberadaan objek wisata berupa pebukitan itu seolah-olah telah mago (hilang) dari pengunjung.

pembatas

Objek wisata Simagomago terletak di inti kota Sipirok dan berjarak sekitar 32 kilometer dari Kota Padangsidimpuan (Psp). Lokasinya di sebelah kanan jalan dari arah Psp menuju arah Tarutung. Di lokasi itu ‘ditawarkan’ pemandangan alam terbuka dan bukit dengan tumbuhan ilalang.

Untuk sampai ke tempat wisata tersebut, kita harus berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer dari pintu masuk atau pinggir Jalinsum Sipirok-Medan. Akses jalannya bisa dilalui dengan tangga-tangga kecil yang telah dibangun oleh pengelola objek wisata. Selain itu, apabila warga ingin langsung membawa kendaraannya juga bisa langsung ke atas pebukitan. Namun sayang jalan menuju bukit itu masih kupak-kapik.

Sebelum memasuki bukit Simagomago, pengunjung dapat melihat kompleks makam pahlawan yang berada di sebelah kiri kaki bukit. Di pemakaman ini bersemayam para pejuang Sipirok dan pejuang lainnya yang berasal dari Tapanuli atau dari Tabagsel yang gugur dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia dari penjajah.
Sesampainya di atas bukit, kita disuguhi hawa dingin dan pemandangan yang sangat indah.

Dari puncak Simagomago kita bisa melihat Kota Sipirok, memandang hijau dan menguningnya padi warga, perkebunan masyarakat, dan juga gugusan Bukit Barisan. Umumnya pengunjung ramai saat hari raya Idul Fitri dan hari libur lainnya. Selain itu, di bukit ini juga dimanfaatkan menjadi salah satu tempat pelaksanaan perkemahan, baik itu tingkat sekolah, kecamatan, ataupun para keluarga yang bertamasya pada saat berliburan di atas pebukitan.

Faisal (33), salah seorang warga setempat mengatakan, salah satu keunggulan dan keutamaan yang merupakan daya tarik tersendiri bagi Simagomago adalah pemandangan alam terbuka dan bukit dengan tumbuhan ilalang yang cocok untuk tempat jalan-jalan menghilangkan kepenatan dari segala kesibukan kerja.

“Pada dasarnya keunggulan yang dimiliki Simagomago sehingga pengunjung begitu berminat ke sini adalah karena menyuguhkan pemandangan alam terbuka dan semilir angin yang berhembus. Sangat cocoklah terutama bagi muda-mudi. Tapi sekarang tampak sudah jauh berkurang pengunjungnya jika dibanding tahun 1980-an atau 1990-an,” ujar Faisal.

Beberapa pengunjung yang datang secara rombongan mengatakan, mereka ingin menikmati pemandangan alam dari atas bukit Simagomago. Meski baru pertama kali mengunjungi lokasi tersebut, mereka mengaku cukup terkesan.

“Kami baru pertama datang ke mari, dan kami tahu dari kawan juga. Pemandangannya cukup bagus, apalagi udaranya begitu sejuk, asyik begitulah. Tarif masuknya juga terjangkau, kami masih ada rencana berkunjung lagi,” ucap Harahap (40), salah seorang dari 10 pengunjung yang datang berombongan.

Boru Siregar (30), petugas yang menjaga di pintu masuk objek wisata tersebut mengungkapkan, jumlah pengunjung yang datang ke Simagomago tidak menentu lagi. Diakuinya jika dibandingkan tahun 1980-an atau 1990-an, jumlah pengunjung jauh berkurang.

“Kalau pengunjung saat ini tak tentu bang, dan pastinya kami tak tahulah, karena tak pernah dihitung. Kalau dibanding tahun 80-an atau 90-an jelas menurunlah,” terangnya sambil menyebutkan tarif masuk pengunjung Rp2.000 per orang.

Seiring dengan berjalannya waktu, objek wisata Simagomago saat ini sepi pengunjung. Pengunjung yang datang setiap hari diperkirakan 20-30-an orang. Padahal tahun 1980-an hingga 1990-an penjunjung yang datang pada hari biasa mencapai 100-an orang, sementara saat hari libur mencapai 200-an orang lebih.

Kondisi ini diduga diakibatkan semakin banyaknya objek wisata di beberapa daerah lainnya. Selain itu fasilitas di Simagomago juga terkesan kurang diperhatikan. Seperti kondisi jalan yang aspalnya mulai terkelupas, beberapa pendopo tempat berteduh yang sudah kotor dan ditutup semak belukar.

Pemerintah daerah diminta memperhatikan kondisi Simagomago yang minim pengunjung. Sebab, jika objek wisata tersebut tetap ramai dikunjungi, tentu mampu meningkatkan perekonomian warga setempat sekaligus menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD) ke depan. (Metrosiantar.com)


TERPOPULER MINGGU INI

To Top
Berita Rekomendasi:close