Aek Sijornih Tapsel Memukau, tapi Parkir Mengecewakan


0
BERMAIN Puluhan anak-anak bersama keluarganya sedang menikmati liburan dengan mandi di Aek Sijornih, tempat wisata Tapanuli Selatan yang selalu ramai dikunjungi, Sabtu (3/1). (medanbisnis/ck 06)
BERMAIN Puluhan anak-anak bersama keluarganya sedang menikmati liburan dengan mandi di Aek Sijornih, tempat wisata Tapanuli Selatan yang selalu ramai dikunjungi, Sabtu (3/1). (medanbisnis/ck 06)

Tapsel – AEK Sijornih, begitu orang menyebut tempat wisata yang satu ini. Letaknya berada di arah selatan dari ibu kota Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), hanya berjarak kurang lebih 30 kilometer, dan dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih setengah jam dari kota Padangsidimpuan.

Suasana liburan tahun baru ini, tempat wisata yang satu ini ramai dikunjungi. Tua muda, anak-anak, tempat ini dijadikan tempat permandian yang cukup menyenangkan.

Air terjun dengan mengitari bebatuan tidak akan pernah keruh, karena kandungan kapur di dalam air. Lihat saja seusai mandi, tangan, badan terasa kasar dan bersisik akibat kandungan kapur yang ada di air lengket di badan. Tapi bagi pengunjung hal tersebut tidak masalah yang penting happy day.

Debit airnya juga tergolong cukup besar, sehingga sungai ini dijadikan destinasi wisata, sekaligus pemandian bagi warga sekitar dan juga pendatang yang berkunjung ke Padangsidimpuan dan Tapanuli Selatan. Kontur tanahnya yang mendaki, karena terletak di areal bebukitan membuat air mengalir tercurah dari atas laksana air terjun sehingga menambah eksotisme Aek Sijornih. Keistimewaan air yang sangat jernih sesungguhnya menjadi daya tarik Aek Sijornih.

Jika kita mendaki ke atas, sekitar daerah pinggang bukit, kita akan melihat lintasan sungai dengan air yang mengalir tenang dan jernih sehingga dasar sungai dengan bebatuannya terlihat jelas. Airnya kemudian mengalir dengan deras menuju kaki bukit menimbulkan bunyi gemericik air yang cukup kuat. Karena kontur tanah yang cukup terjal inilah sehingga menyebabkan lintasan air laksana air terjun.

Anak-anak memang pada umumnya senang bermain air. Di tempat pemandian itu sendiri, warga sekitar yang mengelola Aek Sijornih secara swadaya membuat semacam kolam renang sederhana yang sangat cocok bagi anak-anak. Tak jarang para keluarga membawa bekal makanan yang dinikmati di atas hamparan tikar usai mandi ataupun di dalam air. Bagi pengunjung juga tersedia pondokan untuk istirahat bersama keluarga ataupun teman-teman.

Tempat ini tidak hanya sebatas tempat mandi saja, tempat ini cukup strategis lokasi memadu asmara muda-mudi dan tempat shpping. Sepanjang jalan menuju ke atas banyak ditemukan pedagang berbagai pernak-pernik, mulai pakaian anak-anak sampai cendra mata yang mau di bawakan sebagai oleh-oleh dari tempat ini. Cafe dengan berbagai menu hidangan dan tempat santai bagi muda-mudi untuk memadu kasih juga banyak ditempat ini.

Namun sangat disayangkan tempat yang dinilai cukup eksotisme dan selalu ramai dikunjungi ini, tidak tertata dengan baik. Pengaruh ego kedaerahan menjadi salah satu pemicu tidak berdayanya pemerintah dalam menata tempat ini. Dua rambin jalan menuju aek sijornih ini satu diantaranya milik (dibangun pemerintah) satunya lagi swadaya masyarakat.

Namun kedua rambin ini oleh pemuda setempat memungut uang masuk berkisaran Rp2.000 per orang. Tidak itu saja yang membuat tidak nyaman pengunjung banyaknya aksi pungtan dari para pemilik tanah yang selalui dilintasi para pengunjung.

“Setiap melintasi lahan yang mengaku miliknya memintai uang sebesar Rp.2000 per orang, kepada kami,” kara Riswan (37) salah satu pengunjung yang ditemui hari Sabtu (3/1) lalu. Pungutan seperti ini dirasanya lebih dari tiga kali setiap melintasi lahan pekarangan tanah yang mengaku miliknya mereka selalu meminta dengan dalih uang kebersiahan.

“Bayangkan saja kalau rombongan kita dua puluh orang kali dua ribu dah berapa kita harus mengeluarkan biaya,” katanya.

Parkir kederaan roda dua dan roda empat juga menjadi lahan tersendiri bagi warga sekitar aek sijornih seperti warga Aek Libung, kecamatan Sayur Matinggi, Kabupaten Tapanuli Selatan. “Saya pernah merasakan sakit hati karena parkir mobil saya dikenakan Rp 50.000,” kata Riswan.

Pematokan biaya parkir yang sering ditetapkan bervariasi membuat pengunjung juga tidak nyaman datang ke tempat ini. Namun tidak semuanya biaya parkir untuk jenis mobil Rp 50.000 ada juga yang hanya Rp 20.000.

Rudi misalnya, mengatakan dirinya membayar uang parkir mobil Avanza miliknya Rp.20.000. “Saya kebetulan bayar Rp.20.000,- dan untuk Honda Rp.10.000,” katanya.

Di tengah-tengah ramainya pengunjung dan momentum hari libur seperti ini dimanfaatkan oknum-oknum tertentu untuk menaikkan tarif parkir di tempat aek si jornih ini. Namun hal tersebut justru dapat mencederai pengunjung yang niatnya semula mau berekreasi ketempat ini jadi terbawa pikiran kesal.
Menurut Riswan tidak masalah kalau ada tarif yang harus di kenakan masuk ketempat si Jornih ini tapi maunya cukup satu pintu saja.

“Silakan aja mereka buat aturan semisal 10 ribu per orang. Tapi cukup itu saja kita sudah bebas dan nyaman di lokasi tempat rekreasi ini. Sekarang ini kan kesannya kita dipaksa,” katanya.

Untuk itu diharapkan kepada pemerintah dapat melakukan upaya langkah-langkah penertiban pada tempat wisata kebanggaan Tapsel ini. Di samping itu juga pemerintah sudah sepantasnya memikirkan adanya konstribusi kepada daerah sebagai peningatan PAD daerah Kabupaten Tapsel. (ck-06/MedanBisnis)


What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Keren Keren
0
Keren
Marah Marah
0
Marah
Muntah Muntah
0
Muntah
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Suka Suka
0
Suka
Takut Takut
0
Takut