Asap Sinabung Warna Merah Muda


0

asap sinabungSUMUTPOS.CO-Aktivitas gunung Sinabung hingga Kamis (28/11) masih tinggi. Kawah yang mengeluarkan asap berwarna merah muda sempat membuat panik masyarakat, ditambah isu -isu tidak sedap yang belakangan marak beredar di tengah-tengah masyarakat.

Petugas PPGA (Pos Pemantau Gunung Api) Sinabung, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gang Kayu Bakar, Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat, Ahmad Nabawi kepada Posmetro Karo Mengatakan, asap berwarna merah muda tesebut merupakan material letusan atau batu dari tanah yang mengalami oksidasi.

“Hal itu merupakan hal yang alamiah,” ungkap Ahmadn
Seismitas Gunung api Sinabung lanjut Ahmad, sesuai dengan pengamatan PPGA Sinabung, Kamis (28/11) hingga pukul 12.00, terjadi 21 kali gempa Vulkanik Dalam (Va), amplitude maximum hingga 5 – 8 mm dengan lama gempa yang bervariasi, paling tinggi 5 – 18 detik.

Gempa Vulkanik dalam (Vb) sebanyak 3 kali dengan amplitude maximum 5 – 7 mm, Gempa Low Freqwency sebanyak 2 kali, amplitude maximum 4 – 5 mm, Hembusan 1 kali dengan amplitude maximum 10 mm dan lama gempa 150 detik, Gempa Tektonik Lokal 2 kali dengan amplitude maximum 11 – 120 mm serta tremor terus menerus terekam.

“ Hingga pukul 18.00 WIB belum ada terjadi erupsi, asap merah muda yang dikeluarkan kepundan atau kawah hanya hembusan saja,” ujar Ahmad.

Di sisi lain, status Awas Sinabung, berdampak luas bagi arus perputaran perekonomian di dataran tinggi  Karo. Terdapat belasan ribu warga yang tidak lagi dapat bekerja, termasuk sekitar 16.672  jiwa pengungsi pada 31 lokasi yang sesuai data Terkini Posko Tanggap Darurat, Selasa (26/11) pukul 17.00 WIB terpaksa tidak berpenghasilan .

Sementara, belum ada jawaban pasti dari pihak berwenang kapan 5.603 kepala keluarga (KK) itu, akan pulang ke rumah masing-masing setelah masa darurat berakhir . Hal ini tentunya  berimbas pada laju perekonomian Tanah Karo yang selama ini diketahui cukup kencang perputarannya dari perdagangan hasil produk pertanian tanaman pangan, perekebunan, khususnya holtikultura.

Sebanyak 21 desa dan 2 dusun harus berhenti memproduksi hasil panen produk pertaniannya, untuk kebutuhan sejumlah wilayah di Sumatera Utara, Batam, Aceh, Riau, dan beberapa daerah di Pulau Jawa. Kondisi keterpurukan yang segera menghampiri para petani, khususnya pengungsi. Diharapkan segera di atasi dan dicari solusinya.

“Pemasaran lokal dan ekspor pasti mengalami gangguan. Mutu barang yang dihasilkan sentra produksi khususnya kecamatan yang terkena tebaran abu vulkanik dan yang ditinggal pergi pengungsi, kita khawatirkan kurang memenuhi standarisasi permintaan pasar. Kerugian nilai ekonomisnya sudah pasti  sangat besar dalam kurun waktu tiga bulan ini (September-November),” terang Sekjen Asosiasi Eksportir Holtikultura  Indonesia (AEHI)  Sumatera Utara, Drs Joy Harlim Sinuhaji.

Sementara itu, kemarin PT Semen Padang menyalurkan bantuan sembako ke pengungsi Sinabung,Karo. “Bantuan berupa beras 40 karung, 300 dus air mineral 300, mie instan 100 dus, ikan sarden 500 kaleng,  minyak goreng 150 kg, gula pasir 200 kg, biskuit, teh dan susu 430 set itu merupakan bantuan awal Semen Padang,”ujar Kepala Perwakilan Semen Padang Wilayah  Medan, Afrizal  di Kabanjahe, Karo, Beliau juga menambahkan selepas bantuan ini, akan ada lagi bantuan lain yang akan mereka berikan, namun semuanya itu bukan berupa sembako atau uang tunai.  “Sebagai salah satu perusahaan yang menjual produknya di Sumut, Semen Padang merasa harus ikut membantu,” katanya. (nng/riz/sid)


What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Keren Keren
0
Keren
Marah Marah
0
Marah
Muntah Muntah
0
Muntah
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Suka Suka
0
Suka
Takut Takut
0
Takut