Banjir di Tapsel Hanyutkan Satu Mobil dan 4 Sepeda Motor


0
Kondisi jalan, pemukiman, dan beberapa kendaraan warga di Angkola Selatan pasca dilanda banjir dan longsor. (Foto: Amran Pohan)
Kondisi jalan, pemukiman, dan beberapa kendaraan warga di Angkola Selatan pasca dilanda banjir dan longsor. (Foto: Amran Pohan)

TAPSEL – Banjir dan longsor yang terjadi di Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), pada Senin (6/1) lalu, tidak hanya merusak tempat ibadah, lima rumah, dan jembatan. Banjir juga merendam sedikitnya 15 rumah. Hingga kini belum bisa ditempati karena masih berlumpur. Tak hanya itu, satu mobil dan empat kreta (baca; sepedamotor) milik warga hanyut pada saat banjir melanda.

Menyusuri lokasi bencana, awak media harus menempuh jarak sekitar 50 kilometer. Akses jalan masih tertutup dengan ketebalan lumpur melebihi 50 cm bercampur potongan kayu di badan jalan, sehingga perjalanan dengan kreta tak bisa dilanjutkan.

Menurut seorang warga, Ali Sutan (41), hujan lebat yang melanda wilayah itu dari sore hingga malam menyebabkan sungai Batang Salai meluap dan dan menghanyutkan apa saja yang dilaluinya. Di tengah guyuran hujan deras, warga berusaha mencari tempat yang lebih aman. “Banjir seperti ini hampir setiap tahun menimpa wilayah ini,” ujarnya.

Lurah Pardomuan Amros Harahap menambahkan, badan jalan yang tertutup longsor ada empat titik, sehingga akses tranportasi lumpuh total. “Akibat hujan yang terus-menerus Senin mulai pukul 14.00 hingga pukul 23.00, mengakibatkan sungai Batang Salai meluap dan banjir. Hujan deras juga mengakibatkan longsor,” terangnya.

Dikatakannya, sekolah kelas jauh juga tak luput dari rendaman banjir dan menghanyutkan buku pelajaran dan menyisakan lumpur di ruang belajar. “Sudah jelas anak-anak di sana tak sekolah lagi. Akses ke sana masih belum terbuka. Dengan alat berat, pemerintah dan masyarakat masih terus berupaya membuka akses jalan,” ujarnya.

Sementara itu, Camat Angkola Selatan Zamhir menyebutkan, hingga saat ini pihaknya baru bisa mendata kerusakan berupa bangunan dek penahan sungai, bronjong dihantam banjir di bantaran sungai sekitar Gua Asom, jembatan sungai Siondop amblas.

Dijelaskannya, pemilik mobil yang hanyut adalah Ali Sutan Siregar, warga Pardomuan. Sedangkan pemilik kreta, masing-masing; Ilham Hidayah, Hadi Siregar, Tanaka Siregar. Pemilik rumah yang rusak dan hanyut adalah Ali Sutan Siregar. Lalu, rumah Damri Manullang, Toguan Siregar, Arosoki Hura, dan A Simatupang rusak berat.

“Sedikitnya 15 rumah masih belum bisa ditempati karena lumpur setinggi lutut. Warga saat ini berada di posko salah satu rumah kosong dan sebagian di rumah keluarga. Dapur umum juga sudah kita buka. Bantuan dari perusahaan, pemerintah dan tokoh masyarakat sudah mulai mengalir,” terangnya.

Untuk mengantisipasi berbagai penyakit menyerang warga pasca banjir, sambung camat, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Puskesmas setempat. “Sesuai dengan penjelasan Kepala Pukesmas, pihaknya telah membuka posko juga, melalui bidan desa yang bertugas di sana,” ucapnya.

Irigasi Jebol, 171 Ha Sawah Terancam Kekeringan
Sekitar 171 hektare sawah di Angkola Selatan, Tapsel, yang telah ditanami padi sekitar satu bulan, terancam kekeringan. Sebab, irigasi Sibongbong Napa yang biasanya memasok air untuk areal pertanian di wilayah itu, jebol, pada Senin (6/1) malam.

Warga Sibongbong Mara Sobar Sitompul (41), kepada METRO Rabu (8/1) mengatakan, hujan deras yang mengguyur mengakibatkan bendungan tak mampu menahan derasnya aliran sungai Batang Angkola, sehingga bendungan yang belum setengah tahun dibangun jebol disisi kiri, sehingga air menembus sisi kiri dan membentuk aliran baru.

“Akibatnya air lepas semua, tak ada tersisa di saluran irigasi lagi,”sebut Mara. Diceritakan Mara, setelah hujan lebat reda sekitar pukul 23.00 pada malam Selasa itu, ia bermaksud melihat kolam miliknya, apakah rusak akibat hujan atau tidak. Ternyata sesampai di areal pertaiannya, ia kaget melihat air tak mengalir lagi di saluran yang ada.

Selanjutnya, pada tengah malam itu, Mara yang juga merupakan petugas Penjaga Pintu Bendung (P2B) untuk Irigasi Sibongbong Napa tersebut terus menelusuri ke arah hilir. “Lantas saya melihat arus air telah beralih ke kanan sungai, air begitu besar dan kuat arusnya,” ungkapnya.

Pantauan METRO di lokasi, irigasi yang terletak di Dusun Hasugian, Desa Siapporik Lombang, Kecamatan Angkola Selatan tersebut, rusak cukup parah. Sisi kanan sungai jebol dan membentuk aliran sungai baru sehingga air tak mengalir di saluran irigasi yang berada di sisi kiri aliran sungai.

Menurut beberapa warga setempat, pelaksanaan pembangunan bendungan irigasi tidak melihat dan mempertimbangkan kondisi lapangan, sehingga diyakini menjadi pemicu kerusakan yang ada saat ini. “Bendungan dibangun lebih tinggi dari bronjong yang ada selama ini, makanya ketika hujan lebat ketika itu genangan aur mengantam posisi yang lebih rendah dan akhirnya menghantam sisi kanan sungai,” sebutnya. (ran) (metrosiantar)


What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Keren Keren
0
Keren
Marah Marah
0
Marah
Muntah Muntah
0
Muntah
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Suka Suka
0
Suka
Takut Takut
0
Takut