Hak jawab Ponpes Darul Mursyid tentang penganiayaan santrinya


0

Pesantren Modern Unggulan Terpadu “Darul Mursyid” (PDM), Tapanuli Selatan memberikan hak jawab atas berita GoSumut pada Minggu (4/6/2017.

Kepada Yth: Team Redaksi Go Sumut Dengan hormat,

Kami dari Pesantren Modern Unggulan Terpadu “Darul Mursyid” (PDM) Tapanuli Selatan dengan ini menyampaikan bahwa kami merasa dirugikan atas dimuatnya beberapa pemberitaan terkait kasus pemukulan yang terjadi tanpa konfirmasi dan mempelajari lebih dalam materi peristiwa tersebut. Sehingga Berita tersebut tampak sangat tidak berimbang (sepihak).

Jadi kami meminta kepada tim redaksi Go Sumut agar meralat kekeliruan dalam pemberitaan tersebut. Hal ini sesuai dengan UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG P E R S Pasal 11 “Hak Jawab adalah seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya.” dan 12. “Hak Koreksi adalah hak setiap orang untuk mengoreksi atau membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain.” A. Berdasarkan pemberitaan di media Go Sumut Minggu, 04 Juni 2017 18:32 WIB (penulis Fendry Nababan) dengan Judul “Dianiaya 9 Senior, Santri Ponpes Darul Mursyid Alami Pergeseran Tulang. 1. Kalimat Judulnya ‘dianiaya 9 Senior…” Klarifikasi: Kalimat judul perlu dikoreksi. Karena PDM telah lama menghilangkan tradisi senior dan junior. Jadi, yang menyebutkan kata “senior” bukan dari PDM, karena memang tidak istilah senior-Junior di PDM. Semua peserta didik di PDM sama hak dan kewajibannya, tidak ada yang di istimewakan. Artinya siswa tidak dilibatkan dalam mengarahkan, memerintah apalagi memberikan hukuman pada sesasa siswa. Semua ditangani oleh personil (karyawan) PDM. Jika kemudian ditemukan ada diantara siswa bertindak sewenang-wenang atas kepentingan pribadi maka akan diberi sanksi tegas sesuai Hand Book. Maka sekali lagi tidak ada kaitan antara senior dengan Junior.

  1. Yang paling mengecewakan lagi, sebut Rinaldi, pihak yayasan terkesan lepas tangan terhadap kejadian yang terjadi di lingkungan ponpes tersebut. Hal ini dibuktikan dengan lambatnya pemberitahuan kepada mereka.

Klarifikasi: Setalah dibaca secara cermat penjabaran Penemuan Kasus diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tidak benar PDM lepas tangan. PDM telah melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya. Juga bisa dilihaat pada penjelasan berikutnya (bagian C). Disamping itu wartawan dari Go Sumut tidak konfirmasi ke PDM tentang kebenaran berita tersebut (anya melalui Telepon). Kami juga sudah menyarankan kepada orang yang mengaku wartawan Go Sumut agar datang langsung ke PDM untuk mencari informasi dan fakta yang sebenarnya. Namun hal tersebut tidak dipenuhi hingga berita ini dimuat.

  1. Peristiwa kejadian tanggal 23 Mei 2017, dan baru dikabari kami pada tanggal 28 Mei 2017, itupun anak kami sudah tergeletak dan dalam perawatan medis di RSUD Padangsidempuan,” ujarnya.

Klarifikasi: Barangkali perlu kami rincikan pertanggal agar lebih jelas difahami.

  • Tanggal 23 Mei 2017 terjadi pemukulan kepada Chandra di asrama dan belum diketahui oleh Pihak Pengasuhan/ Wali Asrama yang bertugas dan tidak ada laporan dari siswa baik korban atau pelaku (detail kejadian ada pada analisis pelanggaran disiplin diatas)
  • Tanggal 24 Mei 2017 diketahui tejadi pemukulan setelah dicari tau oleh Wakil Kepala Divisi Pengasuhan an: Abdul Rohim (seperti pada uraian analisis pelanggaran disiplin diatas)
  • Tanggal 24 Mei 2017, sekitar Pukul 12:00 (siang) atas perintah Wakil Direktur, korban langsung dibawa ke RSUD Padangsidimpuan untuk pemeriksaan dan pengobatan.
  • Setelah dilakukan pemeriksaan hasil ronsen, menurut pengakuan dokter yang bertugas saat itu tidak ada yang sangat mengkhawatirkan kemudian dilakukan perawatan di klinik PDM.
  • Sejak terjadi pemukulan tanggal 23 Mei 2017 sampai dengan tanggal 28 Mei 2017, Chandra tetap masuk sekolah sebagaimana biasanya yang kebetulan sedang ujian berlangsung.
  • Tanggal 28 Mei 2017, Paisal Fahmi (kepala Divisi Pengasuhan) menghubungi orangtua Chandra atas kasus yang menimpa anaknya
  • Tanggal 29 Mei 2017 ayah Chandra (Rinaldi) datang ke PDM menjenguk dan langsung membawa anaknya (chandra) pulang dengan alasan berobat diluar.

Jadi, sangat bertolak belakang pengakuan sdr Rinaldi sesuai pemberitaan tersebut diatas. Karena kalau difahami dari berita yang dimuat tersebut seolah-olah ada pembiaran oleh PDM padahal tidak. Perlu juga difahami bahwa sebelum menginformasikan kepada orangtua siswa (korban) sebagai berikut:

  1. Kami harus mempelajari kasus yang terjadi sehingga bisa menyampaikan informasi yang benar kepada orangtuanya (Rinaldi). Tentu sangat aneh bila kami langusng memberitahukan kasus pemukulan terhadap orangtua korban tapi kami tidap tahu apa, mengapa dan bagaimana peristiwanya terjadi.
  2. Sebagai bentuk rasa tanggungjawab kami, maka kami terlebih dahulu melakukan tindakan perawatan dan pengobatan tidak hanya di PDM tapi juga ke rumah Sakit dengan menanggung segala biaya perobatannya. Tidak serta merta menyerahkan kasus dan perobatan kepada orangtua korban.

Berdasarkan pemberitaan di media Go Sumut Minggu, 04 Juni 2017 19:04 WIB (penulis Fendry Nababan) dengan Judul “Korban penganiayaan 9 senior di Ponpes Darul Mursyid Tapsel minta keadilan”.
Kalimat Judulnya ‘Penganiayaan 9  Senior…”

Klarifikasi:

Kalimat judul perlu dikoreksi. Karena PDM telah lama menghilangkan tradisi senior dan junior. Jadi, yang menyebutkan kata “senior” bukan dari PDM, karena memang tidak istilah senior-Junior di PDM.

  1. Menurut Rinaldi, penganiayaan ini bukan kali pertama terjadi. Akan tetapi kejadian ini baru terungkap. … Candra mengakui sudah kesekian kalinya mengalami tindakan kekerasan dari para seniornya, dst..

Klarifikasi:

Semua pelanggaran disiplin yang diketahui dan terbukti akan diberikan sanksi, termasuk pemukulan, pengeroyokan dan penganiayaan baik pemukulan karena laporan atau temuan.

Dapat kami sampaikan bahwa tidak ada laporan dari Chandra maupun orangtuanya serta bukti yang bisa dipertanggungjawabkan atas kasus pemukulan yang katanya terjadi selama ini. Kita tentu sepakat bahwa setiap kebijakan harus berdasarkan aturan yang berlaku dan tentu harus punya bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Bukan sekedar pengakuan belaka.

  1. Berdasarkan pemberitaan di media Go Sumut Minggu, 04 Juni 2017 21:15 WIB (penulis Fendry Nababan) dengan Judul “Dikeroyok 9 seniornya, begini kondisi santri Pesantren Darul Mursyid Tapsel
  • Kalimat Judulnya ‘Dikeroyok 9 Senior…

Klarifikasi:

Kalimat judul perlu dikoreksi. Karena PDM telah lama menghilangkan tradisi senior dan junior. Pemukulan ini tidak ada sangkut pautnya antara senior dengan junior. Semua peserta didik di PDM sama hak dan kewajibannya, tidak ada yang di istimewakan.

  1. “Ini persoalan besar dan persoalan dunia pendidikan. Kok malah terkesan ditutup-tutupi, seharusnya begitu kejadian pihak Yayasan langsung menghubungi keluarga.“

Klarifikasi:

Kami sadar dan memahami betul kasus ini besar dan dalam ruang lingkup pendidikan. Untuk itu maka hukuman yang kami berikan juga berdasarkan hukuman yang berlaku di PDM sebagai instansi pendidikan. Kalau kemudian ayah korban (Rinaldi) ingin melaporkan ke Kepolisian, kami persilahkan agar diproses secara hukum. Tentu kami tidak ada hak membatasi haknya.

Sebaliknya PDM juga tidak mau menjatuhkan hukuman kepada pelaku pemukulan (pelanggar disiplin) berdasarkan kemauan atau keinginan korban atau pihak manapun. Semua kasus kita selesesaikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tentang aturan bagi peserta didik di PDM sudah dibagikan, di sosialisakian termasuk kepada orangtua peserta didik, yakni Handbook. Dan pelaku sudah kita beri saknsi tegas (sanksi kami uraikan pada penjelasan selanjutnya)

  1. Dirinya menyesalkan kenapa setelah tiga hari kejadian, pihak yayasan baru memberitahukan kejadian tersebut..

Klarifikasi:

Sudah terjawab pada point A

  1. Akibat kejadian itu korban tidak dapat mengikuti ujian Sumatif, karena korban mengalami luka memar dan hampir di seluruh tubuh, bahkan tangan sebelah kanannya mengalami pergeseran tulang.

Klarifikasi:

Korban (Chandra) sebagaimana kami jelaskan pada Bagian III point 3 diatas bahwa Chandra masih mengikuti ujian sejak tanggal 23 Mei 2017. Bisa dibuktikan dengan pengakuan para Guru pengujinya saat itu. Kalimat hampir diseluruh tubuh menurut kami terlalu dibesar-besarkan, PDM punya bukti photo dan hasl pemerikasaan hasil medis. Dan tangannnya memang benar mengalami pergeseran tulang, dan PDM telah berupaya melakukan perawatan hingga Ayahnya kemudian menjemput dan dibawa pulang.

Penjelasan Tambahan

Penyelesaian kasus pelanggaran Disiplin Peserta Didik PDM adalah berdasarkan Handbook dan Hasil Rapat Pimpinan (yang dihadiri oleh semua Kepala Divisi di PDM).  Buku tata Tertib (Hand Book) Peserta Didik Pesantren Modern unggulan Terpadu Darul Mursyid (PDM) sebagai pedoman baku dalam penegakan disiplin peserta didik. Didalamnya semua terangkum tentang semua peraturan, pemberian hukuman, pemberian hak peserta didik, pemberian penghargaan dan penerapan hand book peserta didik.

Pesantren Modern Unggulan Terpadu “Darul Mursyid” (PDM), Tapanuli Selatan

Sidapdap Simanosor 05 Mei 2017

Ttd

Asep Safa’at Siregar,S.Sos.I

Kepala Divisi Humas dan Pemasaran

Redaksi GoSumut tidak bisa menayangkan seluruh hak jawab yang dikirimkan Pesantren Modern Unggulan Terpadu “Darul Mursyid” (PDM), ke kami karena keterbatasan space untuk memuatnya. Namun keredaksian sudah mencoba untuk menangkap poin-poin inti dari hak jawab yang dikirimkan. Atas ketidakyamanan yang ditimbulkan akibat pemberitaan itu, redaksi GoSumut.com meminta maaf.

**Artikel ini dikutip sipirok.net dari GoSumut.com dan dipublish kembali karena sipirok.net mempublish berita yang dimuat di GoSumut.com


What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Keren Keren
0
Keren
Marah Marah
0
Marah
Muntah Muntah
0
Muntah
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Suka Suka
0
Suka
Takut Takut
0
Takut