Harga Cabai Merah di Sipirok Anjlok, Petani Merugi


1
1 point
Harga Cabai Merah di Sipirok Anjlok, Petani Merugi
Panen cabe merah di Sipirok, tetapi harga tak bersahabat membuat petani merugi. (Amran Pohan/Metro Tabagsel)

SipirokPetani cabai merah di Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapsel, kecewa dengan kondisi harga jual yang sangat minim, pada musim panen tahun ini.

Mereka berharap, pemerintah bisa hadir dan memberi solusi agar nilai tukar hasil bumi yang dikelola memiliki nilai ekonomis yang sebanding dengan modal dan tenaga yang dikeluarkan.

Ari Harahap (29) salah seorang petani cabai merah pada awak media ini mengatakan, harga cabai merah saat ini sangat jauh dari harapan. Jika dikalkulasikan dengan modal dan tenaga yang dikerahkan untuk tanaman holtikultura itu, petani dipastikan tidak mendapat untung.

“Jika harga ditingkat petani sempat di bawah Rp10.000 per kilogram, sudah jelas rugi bang. Itu jika dihitung biaya dan tenaga yang dikeluarkan selama perawatan,” ungkapnya.

Diungkapkan, geliat bertanam cabai sudah menjadi kegiatan musiman bagi masyarakat, sebelum musim tanam padi tiba. Dan, bertanam cabai, telah menjadi kegemaran bagi sebagian warga untuk meningkatkan pendapatan keluarga, selain bertanam padi disawah. Namun, pada musim panen cabe merah kali ini, rata rata petani mencak mencak dengan anjloknya harga.

“Pemerintah perlu turun tangan. Dengan membuat berbagai program sehingga harga cabe merah, khususnya pada saat musim panen, tidak terlalu anjlok. Harganya tak sebanding antara sekilo cabai dengan sekilo pupuk lagi. Belum lagi harga obat obatan yang melambung tinggi,” ungkap Ari yang mengaku telah mengikuti kegiatan bertanam cabai merah musiman ini selama 5 tahun terakhir.

Hal serupa juga diutarakan Andi (40). Dikatakannya, dalam dua pekan terakhir, harga cabai merah ditingkat petani selalu dibawah 10 ribu perkilo gram. Kalaupun pernah mengalami kenaikan, hanya sekitar 2 hingga 4 ribu. Padahal, menurut dia, idealnya harga cabai merah ditingkat petani, minimal 15 ribu. Dimana, dengan kondisi itu, petani baru tidak masuk kategori merugi.

“Tahun tahun sebelumnya memang harganya cukup fantastis. Pernah juga mencapai Rp70 ribuan. Tetapi kali sangat jauh dari harapan. Mungkin di tempat lain banyak yang sedang musim panen juga,” ungkapnya seraya berharap pemerintah bisa memberi solusi jika terjadi kondisi seperti itu. (ran) (Metro Tabagsel)


What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Keren Keren
0
Keren
Marah Marah
0
Marah
Muntah Muntah
0
Muntah
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
1
Sedih
Suka Suka
0
Suka
Takut Takut
0
Takut