Harga getah di Tapsel variatif, sawit anjlok


0

Tapsel – Harga karet yang masih rendah dan variatif belum mampu mendongkrak ekonomi warga masyarakat khususnya petani karet di Tapanuli Selatan (Tapsel). Diperparah harga sawit yang mengalami kemerosotan sejak sepekan ini.

“Sangat sulit bisa bertahan dari bertani karet atau menderes. Harga getah yang sangat murah saat ini tidak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Itulah yang dirasakan warga umumnya di daerah ini,” kata Safri salah satu warga petani karet di kecamatan Sayurmatinggi, Kabupaten Tapsel saat berbincang dengan MedanBisnis, Kamis (21/7).

Sejumlah petani karet saat ini terpaksa beralih profesi sebagian besar memilih menelantarkan kebun karetnya, karena dianggap tidak mampu lagi menjadi tumpuan hidup.

Darman (38) misalnya kini memilih menarik becak daripada menderes kebun karet yang tak dinilainya lebih menguntungkan. “Waktu harga karet di atas sepuluh ribu rupiah per kilogram hasil yang didapat dari manderes 400 batang atau sekitar setengah hektare dapat menghasilkan sekitar seratus ribu kadang lebih per harinya. Namun dengan harga yang hanya di bawah enam ribu rupiah per kilogram jelas tidak bisa menutupi kebutuhan rumah tangga,” katanya.

Dengan menjadi penarik becak mesin menurut Darman masih lebih baik walaupun pendapatannya juga tak seberapa. “Menarik becak kadang dapatnya lima puluh ribu rupiah, kadang juga lebih, lumayanlah masih dapat memenuhi kebutuhan sehari hari,” katanya.

Hal senada juga diakui Mura Siregar (56) toke atau pengumpul getah dan sawit di Matancar dan Batangtoru ini mengakui sejak sepekan harga getah dan sawit mengalami penurunan. Hal tersebut diperparah rendahnya kualitas kadar sebagian besar petani karet di derah ini.

“Di daerah Kecamatan Marancar, Batangtoru dan Muara Batangtoru, Tapsel misalnya harga getah karet hanya mampu kita bayar antara Rp 5.000 s/d Rp 6000/kg saja dan harga tersebut berdasar kualitas kadar yang sudah mencapai 65 persen,” kata Mura Siregar (56) pengumpul karet yang sudah puluhan tahun di Batangtoru dan Kecamatan Marancar, Tapsel ini.

Ironisnya harga sawit selama sepekan ini atau pasca lebaran mengalami penurunan dari Rp 1.200/kg kini hanya mampu di bayar Rp 900/kg. “Penurunan harga sawit tersebut disebabkan harga di pabrikan juga mengalami penurunan,” katanya kepada Medan Bisnis, Kamis (21/7).

Mura Siregar yang berprofesi sebagai toke pengumpul karet dan sawit ini adalah mantan anggota DPRD Tapsel 2008-2014. Dia berharap pemerintah segera mengambil langkah yang cepat memperbaiki harga produksi pertanian secara umum dan harga karet khususnya.

Menurutnya, rendahnya harga karet sangat berpengaruh pada melemahnya ekonomi masyarakat. “Biasanya saya menjual getah antara 6-8 ton ke pabrik setiap hari, namun saat ini saya hanya menjual empat kali seminggu ke pabrik,” katanya.

Rendahnya harga karet saat ini membuat sebagian besar petani menelantarkan kebun karetnya dan memilih mencari pekerjaan lain.

Dia juga mengakui bahwa harga getah karet di tingkat pabrikan memang sedikit tinggi. Namun pabrik getah yang berani menawar dengan harga yang sedikit lebih baik harus ke luar dari Tabagsel semisal ke Indrapura.

“Di Indrapura harga karet jauh lebih mahal atau bisa berkisar Rp 13.000 per kg, tapi kita kenaknya dimobilisasi atau biaya angkutan ke sana tambah penyusutan,” katanya.

Menurutnya melemahnya ekonomi masyarakat saat ini dipicu rendahnya harga getah karet dan sawit. Apalagi daerah Tabagsel umumnya masyarakat hidup dari karet dan sawit. “Harga karet dan sawit boleh dibilang indikator melambat dan membaiknya ekonomi masyarakat,” katanya. (ikhwan nasution /medanbisnisdaily.com)


What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Keren Keren
0
Keren
Marah Marah
0
Marah
Muntah Muntah
0
Muntah
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Suka Suka
0
Suka
Takut Takut
0
Takut