Jika Setujui PLN, Produksi PT Inalum Turun 15 sampai 20 Persen


0

MEDAN – Direktur Umum dan SDM PT Inalum, Nasril Kamaruddin mengatakan, pihaknya masih mempertimbangkan permintaan tambahan pasokan listrik oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Nasril mengakui permintaan itu cukup berat untuk disetujui. Pasalnya, dengan pasokan yang dibagi sebesar 90 MW pasca berakhirnya Master Agremeen (MA) dengan Nippon Asahan Aluminium (NAA) ke PT PLN, itu saja kapasitas listrik terpasang milik PT Inalum sudah tergolong full dipergunakan. Ia meyakini jika menyetujui permintaan itu, maka produksi aluminum akan terganggu.

“Kita sedang pertimbangkan. Pasti, pastilah kita harus menurunkan produksi jika mengakomodir 135 MW permintaan PLN. Makanya, kami harus melapor ke pemegang saham,” jawab Nasril saat dikonfirmasi Tribun via selularnya, Jumat (7/3/2014).

Nasril menjelaskan, PT Inalum sudah mensupplay 90 MW ke PLN tersebut pasca kerjasama dengan Jepang. Sedangkan, untuk produksi aluminum, Inalum menggunakan 450 MW.

“90 MW ke PLN itu mulai 1 November 2013 sampai sekarang. Kalau daya terpasang milik Inalum 600 MW. Tapi kan kita tidak mungkin mengoperasikan 100 persen, harus ada cadangan,” tukasnya.

Ia mengakui satu sisi biarpet listrik di Sumut akan teratasi jika 135 MW dibagi ke PT PLN. Namun, tambahnya, disisi lain konsekwensinya produksi PT Inalum harus dikurangi.

“Iya, tapi kan konsekwensinya produksi Inalum harus turun. Karena PT Inalum sudah full milik pemerintah, maka tergantung pemerintah. Kalau pemerintah katanya mau turun, ya kita harus turunkan produksi kira-kira 15 sampai 20 persen,” ujarnya.

Nasril mengaku belum membaca langsung permintaan Inalum itu. Jika permintaan 135 MW diluar 90 MW yang selama ini dibagi ke PLN, maka separuh dari total produksi PT Inalum harus dihentikan.

“Perkiraan saya permintaan itu dari 90 MW menjadi 135 MW. Tapi kalau penambahan 135 MW maka separuh perusahaan tutup,” ujarnya tertawa.

Inalum sendiri menurutnya, jika dimungkinkan ingin menambah kapasitas listrik lebih besar. “Kita justru mau lebih besar, karena Inalum punya target mau menaikkan produksi. Justru kita juga terkendala dengan energi, kan!,” ujarnya.

Nasril mengaku tidak bisa menghitung-hitung kerugian rupiah yang ditimbulkan jika permintaan 135 MW ke PLN dikabulkan. “Kalau turun berapa (rupiah). Itu harus lihat datanya,” ujar Nasril yang mengaku sedang berada di Jakarta.

Terpisah, Kepala Otorita Asahan, Effendi Sirait mengaku pasca berakhirnya kerjasama dengan Jepang, pihaknya tidak terlibat lagi dengan managemen bisnis PT Inalum.

“Kalau dulu jika Inalum mau menyalurkan listrik ke PLN, itu harus ada persetujuan dari Otorita Asahan. Karena ada kepentingan Indonesia dan Jepang disitu. Sekarang masalah listrik dan masalah produksi Inalum, sepenuhnya sudah menjadi kebijakan usaha dari Inalum. Artinya kebijakan Inalum yang tentu harus sesuai arahan dari Menteri BUMN selaku atasannya,” jelasnya lewat sambungan telepon, Jumat tadi.

Menurut Effendi saat ini solusi terbaik untuk mengatasi krisis listrik di Sumut, adalah mengejar pembangunan PLTA Asahan III.

“Karena dari Sungai Asahan saja PLN sekarang sudah dapat pasokan sekitar 280 MW. Dari PLTA Asahan I sebesar 180 MW. Dan dari PT Inalum (PLTA Asahan II) sekitar 100 MW,” ujarnya.

(fer/tribun-medan.com)


What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Keren Keren
0
Keren
Marah Marah
0
Marah
Muntah Muntah
0
Muntah
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Suka Suka
0
Suka
Takut Takut
0
Takut