Kasus Century Mandeg, KPK Tidak Dipercaya


0
Gedung KPK
Gedung KPK

JAKARTA – Kepercayaan publik terhadap KPK akan hilang bila kasus Century tidak bisa terselesaikan. Demikian Guru Besar Hukum Internasional Universitas Padjajaran (Unpad) Romli Atmasasmita saat memberikan pendapatnya dihadapan Timwas Century di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (27/11). “Kalau main-main terus KPK jadi 0 persen buat apa punya KPK?” kata Romli.

Romli mengaku kasus Century bisa selesai dengan cepat bila UU KPK direvisi. Selain itu, KPK harus mempertanggungjawaban kepada publik soal perkembangan kasus Century. Sebab, Romli mengatakan KPK telah memiliki banyak bukti dan keterangan dari ahli-ahli. “Ahli sudah masuk, tinggal dibahas, mana ada peraturan mengikuti peristiwa dan diubah lagi,” katanya.

Ia juga melihat dalam peristiwa tersebut para pejabat saling lempar tanggung jawab. “Siapa penanggung jawab BI ya Gubernur BI, siapa penanggungjawab LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) ya presiden. Saya bicara aktual. Baca saja UU. Kok KPK susah meriksa Boediono sampai di kantornya,” katanya. Ia melihat dalam peristiwa tersebut publik sudah melihat adanya unsur melawan hukum.

“Sejak merger sampai FPJP (Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek) sampai PMS (Penyertaan Modal Sementara) bermasalah, KPK harus berani siapa yang terlibat dibuka,” ujarnya.

Minta Pendapat Ahli
Sementara itu, Tim Pengawas Century hari ini kembali menggelar pertemuan. Rencananya, timwas memanggil pakar hukum untuk dimintai pendapatnya, mengenai kasus yang merugikan negara sebesar Rp 6,7 triliun.

“Saya kira, kami akan lebih meminta penjelasan dan pandangan dari pakar, mengenai penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik, seperti yang disampaikan perbuatan tindak pidana,” kata Anggota Timwas Century Sarifudin Sudding.  Sudding menuturkan, timwas meminta pendapat mengenai kebijakan-kebijakan pihak-pihak terkait, saat peristiwa itu terjadi.

Mengenai keinginan Timwas Century agar Boediono non-aktif dari jabatannya sebagai wakil presiden, Sudding mengatakan hal itu juga akan ditanyakan kepada para ahli. Saat kasus Century berlangsung, Boediono menjabat sebagai Gubernur BI.

Apalagi, saat pemeriksaan penyidik KPK, Boediono dimintai keterangan di Kantor Wakil Presiden. Boediono mengaku tidak bisa menjalankan pemeriksaan di KPK karena adanya protokoler Istana. Padahal, itu mengganggu institusi KPK.

“Akan kami minta pandangan terhadap pakar ini. Apakah sebaiknya non-aktf dulu supaya dia lebih fokus bisa menjalankan pemeriksaan. Apakah KPK lebih leluasa untuk Pak Boediono,” paparnya.

Hanya Rp 1 Triliun
Selain itu, dalam pertemuan dengan Tim Was Century, Romli juga menceritakan pengalamannya bersama dengan Direktur Bank Century Robert Tantular. Saat itu Romli tengah ditahan di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Agung akibat kasus Sistem Administrasi Badan Hukum (Sisminbakum) sedangkan Robert terkait kasus Century. “Ruang tahanan saya, depannya Robert Tantular, saya tanya kamu ngerampok banyak benar. Demi Tuhan cuma Rp1Triliun,” kata Romli.

Robert kemudian mengaku kepada Romli tidak berani bercerita kepada publik mengenai persoalannya itu. “Dia bilang begini nanti saya dibunuh,” imbuh Guru Besar Hukum Internasional Universitas Padjajaran itu.

Namun pada akhirnya, kata Romli, Robert pun berani mengungkapkan hal itu kepada publik. “Pasti ada backup, sehingga ada keberanian bicara, padahal kasus terang benderang, tidak perlu mutar-mutar,” katanya.

Romli mengatakan kasus cek pelawat dapat menjadi acuan dalam kasus Century. Dimana keputusan Dewan Gubernur Bank Indonesia merupakan tanggung jawab kolektif kolegial.
Ia pun mencontohkan saat KPK dipimpin oleh Antasari Azhar yang berani membongkar kasus.

“Antasari lebih berani dari KPK sekarang, kalau Antasari diikuti tidak ada Timwas,” imbuhnya.
Romli mengatakan kasus Century sudah terang benderang. Tetapi kasus tersebut seperti berjalan di tempat. “Dua saja (tersangka) penetapan debatnya panjang, dari situ terlihat pimpinan KPK tidak solid lain dengan dulu,” kata Romli. (Tnc/Int) (metrosiantar)


What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Keren Keren
0
Keren
Marah Marah
0
Marah
Muntah Muntah
0
Muntah
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Suka Suka
0
Suka
Takut Takut
0
Takut