Kisah Si ‘Mantari Bondar’ yang Berjasa Bagi Petani Marancar Tapsel


1
1 point
Kisah Si 'Mantari Bondar' yang Berjasa Bagi Petani Marancar Tapsel
Jansen Pasaribu, penjaga pintu air di Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara. Foto/Zia Nasution

Tapanuli Selatan – Usianya hampir memasuki satu abad. Jansen Pasaribu (84), sang ‘mantari bondar’ (pengatur pintu air) dari Desa Haunatas, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, dianggap paling berjasa bagi masyarakat petani di daerah itu.

Pagi itu, cahaya mentari sudah terlihat di upuk timur, pertanda bagi masyarakat akan memulai aktivitasnya. Tak terkecuali dengan Ompung Jansen, panggilan akrab Jansen Pasaribu. Badannya yang sudah keriput, raut muka yang sudah tua, tidak menghilangkan semangatnya untuk turun ke sawah.

Ompung Jansen tinggal di rumah yang sederhana bersama istrinya Minah Hutapea. Sembari memegang peralatan yang biasa dia bawa, dia pamit untuk melakukan aktivitasnya.

Di tengah perjalanan ke tempat yang dituju, laki-laki yang memiliki delapan anak itu tidak hentinya memberikan senyuman kepada penulis. Mungkin, menandakan bahwa dia bahagia dengan profesinya sebagai ‘mantari bondar’.

Profesi sebagai mantari bondar sudah dia jalani sejak tahun 1958. Selama puluhan tahun, dia sangat menghargai pekerjaannya, karena memberikan manfaat yang banyak bagi masyarakat.

Ternyata, pekerjaan sebagai pengatur pintu air itu sudah menjadi turun temurun, mulai dari kakeknya, Moses Pasaribu. Diyakini, Moses orang yang pertama membuka kampung yang saat ini dihuni ratusan kepala keluarga (KK) itu.

Untuk sampai ke lokasi pintu air, Ompung Jansen, harus berjalan kaki 3-4 kilometer. Selama menjadi mantari bondar, dia tidak pernah mengeluh, walaupun terkadang harus menghadapi medan yang berat.

“Kalau hujan lebat atau longsor, saya harus kesana untuk melihat bangunan pintu air,” ujarnya. Seakan tidak memperdulikan bahaya yang menghadang, Ompung Jansen tetap akan pergi ke pintu air apabila ada yang rusak dan langsung memperbaiki, karena keberlangsungan usaha petani tergantung dari pintu air yang dia jaga.

Dia menceritakan, dahulu warga di desa itu pernah mengalami kekeringan, karena sarana pintu air yang terbuat dari kayu dan batu yang disusun ambruk. Tak heran, banyak masyarakat yang sudah berencana untuk mencari tempat tinggal di desa yang lain. Setelah ada musyawarah dengan warga, akhirnya disepakati untuk mencari cara lain mendapatkan air.

Satu-satunya cara untuk mendapatkan air dengan memahat batu yang panjangnya lebih kurang empat meter. Dengan tekat yang kuat, seluruh warga di desa itu bergotong-royong dan akhirnya air bisa lewat dari batu itu. “Latar belakang sejarah itu, kami sangat menjaga lingkungan. Apabila ada yang menebang kayu, maka semua warga, terutama mantari bondar dan penjaga tali air akan langsung menindaknya,” ujarnya.

Untuk meringankan pekerjaannya, dibentuk tujuh orang penjaga tali air dengan satu orang ketua. Apabila ada salah seorang anggota tali air yang tidak bisa bekerja, maka ketua tali air harus melapor kepada mantari bondar. Selain itu, ketua tali air bersama anggota bertugas untuk mengutip iuran dari seluruh petani.

“Satu kali dalam setahun, persisnya setiap panen, pemilik lahan wajib memberikan dua kaleng padi kepada mantari bondar dan penjaga pinti air,” ujar Ompung Jansen ketika ditemui di rumahnya.

Sanksi yang akan didapat oleh petani yang tidak memberikan, maka dalam setahun air tidak akan mengalir ke sawah petani yang tidak memberikan upah. Untuk memilih anggota tali air harus melalui proses adat yang berlaku di daerah itu. Sehingga, keputusan penjaga tali air dan mentari bondar dianggap sudah sesuai dengan adat. (SindoNews)


What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Keren Keren
1
Keren
Marah Marah
0
Marah
Muntah Muntah
0
Muntah
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Suka Suka
0
Suka
Takut Takut
0
Takut