Masalah di SMK Negeri 3 Sidimpuan akhirnya diadukan ke DPRD Sumut


0

Padangsidimpuan – Beragam masalah yang terjadi di SMK Negeri 3 Padangsidimpuan akhirnya dibawa ke DPRD Sumut. Hari ini, Selasa (15/5), akan dilakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang dihadiri sejumlah guru dari sekolah rujukan tersebut.

“Hari ini kami bersama sejumlah guru berencana akan berangkat ke Medan untuk menghadiri RDP yang diadakan pihak DPRD Sumut,” ujar sejumlah guru yang akan berangkat, Senin (14/5).

Penuturan Asrul Sani Lubis, tenaga pengajar di SMK Negeri 3 Padangsidimpuan ini mengaku heran dengan sikap pemerintah, khususnya Dinas Pendidikan Sumut yang dinilai tidak tegas menyikapi beragam masalah yang terjadi di sekolah mereka.

Mulai dari adanya dugaan pungli, intimidasi hingga ketidakharmonisan yang sampai saat ini masih terjadi. Baik antar sesama guru dengan guru bahkan guru dengan kepala sekolah. Hal itu, katanya, membuat kenyamanan belajar mengajar terganggu.

“Yang kami sampaikan, tujuannya agar sekolah bisa kembali kondusif dan kegiatan belajar mengajar dapat berjalan nyaman dan lancar,” ujarnya.

Ia berharap, dengan dilakukannya rapat dengar pendapat tersebut, dapat menghasilkan kebijakan yang bertujuan kepada arah yang lebih baik. Khususnya bagi siswa dan seluruh guru-guru yang ada.

Diketahui, SMK Neger 3 Padangsidimpuan terus menuai masalah, mulai dari adanya dugaan praktik pungli, intimidasi kepada siswi berujung minum racun dan bunuh diri, hingga dugaan kekerasan verbal oleh oknum guru yang menyuruh siswinya menjual diri.

Menurut catatan Metro Tabagsel, masalah yang ada di ‘sekolah rujukan’ ini bukan kali pertama terjadi. Dimulai Oktober 2016 lalu, puluhan siswa kelas tiga jurusan tataboga membuat aksi demo di dalam sekolah, mereka mengeluhkan adanya kutipan sejumlah uang yang dirasa sangat memberatkan.

Tak sampai di situ, awal Desember 2016 aksi demo kembali terjadi, kala itu sebanyak 800 siswa dan siswi sepakat menuntut agar Kepala Sekolah mereka diganti dan dituding banyak membuat kebijakan yang tidak berpihak kepada siswa bahkan merugikan mereka. Aksi tersebut, sempat mendapat perhatian dari pihak Dinas Pendidikan Provinsi Sumut.

Bahkan mediasi dan investigasi pun dilakukan. Namun, apa yang diharapkan juga tidak ada jawaban. Puncaknya, 8 Desember 2016 lalu, ratusan siswa bersama puluhan guru melakukan longmarch dengan berjalan kaki ‘menyerbu’ Kantor Walikota dan Kantor DPRD Padangsidimpuan untuk menyampaikan aspirasi mereka. Lagi-lagi, aksi tersebut tidak mendapat dampak yang baik bagi perubahan pendidikan di sekolah mereka.

“Kita sudah tebuskan masalah ini ke dinas pendidikan provinsi sumut, namun kesannya malah menuding ada oknum guru yang menjadi provokasi. Padahal aksi itu jelas murni dari siswa dan guru-guru yang ingin merasakan keadilan,” ungkap Asrul Sani Lubis, salah seorang guru di sekolah tersebut.

Paska aksi itu, aktivitas sekola berjalan seperti biasa. Namun siswa dan sebagian guru belum merasa puas, karena semua aspirasi yang mereka sampaikan satupun tidak ada tindak lanjutnya.

Belakangan, kekisruhan pun kembali muncul paska Amelia Nasution, siswi kelas tiga jurusan busana sampai nekat minum racun, dan akhirnya meninggal setelah 10 hari dirawat di RSUD Kota Padangsidimpuan.

Dari keterangan korban, orang tua dan sahabatnya, Amel nekat minum racun gegara takut atas tindakan intimidasi yang dilakukan oknum guru. Ia bersama dua temannya, diancam akan dipenjara dan didenda ratusan juta akibat melakukan ucapan kasar lewat Medsos. Lagi-lagi, masalah itu berawal dari adanya dugaan pembocoran jawaban ujian.

Setelah menjadi pemberitaan nasional, kasus tersebut mendapat respon dan simpatik dari sejumlah kalangan. Mahasiswa dari PC PMII sampai turun ke jalan dan nyaris bentrok dengan petugas keamanan saat menyampaikan dukungan dan tuntutan mereka agar kasu Amelia disutu tuntas. Tak hanya sekali, aksi berlangsung hingga dua kali.

Terakhir, lima orang siswi jurusan kecantikan di sekolah yang terletak di Jalan BM Muda Siregar, Silandit Kota Padangsidimpuan membeberkan pengakuan yang mengejutkan. Hanya tak mampu bayar uang PU (Pengelolaan Usaha) mereka disuruh jual diri oleh salah satu oknum guru. [metrotabagsel.com]


What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Keren Keren
0
Keren
Marah Marah
0
Marah
Muntah Muntah
0
Muntah
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Suka Suka
0
Suka
Takut Takut
0
Takut