Nasib Boediono semakin ‘kritis’


0

JAKARTA – Nasib mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang kini menjabat Wakil Presiden Boediono dalam kasus Century kian terpojok. Namanya disebut dalam dakwaan Budi Mulya. Di saat bersamaan DPR pun bersiap memanggil kali ketiga. Ancaman panggil paksa mengintai Boediono.

Nama Boediono mencuat dalam dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kasus Century, Jakarta. Anggota Tim Pengawas Century DPR RI Bambang Soesatyo mendesak pimpinan DPR mengundang Boediono ke Timwas Century. “Pemanggilan Boediono merupakan mekanisme dewan. Ini soal kewibawaan lembaga,” kata Bambang di Jakarta, tadi malam.

Seperti diketahui, Boediono telah dipanggil dua kali oleh Timwas DPR Century. Namun dalam dua kali pemanggilan tersebut Boediono tak datang. Timwas berencana memanggilnya untuk ketiga kalinya.

Proses pemanggilan ketiga kalinya, memunculkan polemik di internal DPR. Ketua DPR RI Marzuki Alie mengatakan dirinya berpandangan tidak tepat bila Timwas Century memanggil Boediono. Menurut dia, saat ini proses hukum tengah berjalan di Pengadlan Tipikor. “Yang kita dorong hukum bukan politik lagi. Timwas Century mengawasi proses penegakan hukum,” kata Marzuki.

Sementara Juru Bicara Wapres Boediono Yopie Hidayat memastikan Wapres Boediono siap menghadiri sidang di Tipikor Jakarta terkait kasus Century. Dalam persidangan Budi Mulya, nama Boediono disebut ikut serta dalam proses bailout century.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) KMS Roni menyebutkan, Bank Indonesia (BI) tidak tegas menangani permasalahan Bank Century. Bahkan bank sentral itu terkesan menutup-nutupi persoalan yang terjadi di Bank Century.

Padahal berdasarkan hasil pemeriksaan on site supervision yang dilakukan BI dari tahun 2005-2008, menunjukan Bank Century telah alami masalah struktural sejak lama.

“Pengawas Bank Indonesia pernah merekomendasikan untuk menutup PT Bank Century, namun Bank Indonesia tidak bertindak tegas, dan cenderung menutup-nutupi keadaan yang sebenarnya. Dan bahkan tetap berusaha untuk menyelamatkan Bank Century,” kata Jaksa KMS Roni ketika membacakan dakwaan Budi Mulya di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis petang.

Penyelamatan ‘curang’ Bank Century, jelas Jaksa Roni, dapat terlihat dari langkah-langkah yang dilakukan beberapa petinggi Bank Indonesia. Di antaranya, adanya penerimaan uang Rp1 miliar oleh Budi Mulya dari Robert Tantular, pemegang saham Bank Century.

Menurut JPU, Budi Mulya mendapat uang itu setelah sebelumnya menemui Robert di kantornya, PT Century Mega Investindo di Gedung Sentral Senayan, Jakarta Selatan, sekitar Juli 2008.

“11 Agustus 2008, terdakwa menerima satu lembar bilyet giro Bank Century dengan nilai Rp1 miliar dari Robert Tantular yang ditanda tangani oleh Huniwati Tantular, adik kandung Robert Tantular,” kata Jaksa Roni.

Tidak hanya pertemuan itu yang diduga untuk mengatur kecurangan, lanjut JPU, Robert Tantular juga bersama Budi Mulya, kembali melakukan pertemuan pada 12 Oktober 2008 di Gedung A lantai 24 Bank Indonesia.

Pertemuan kali ini turut dihadiri Deputi Gubernur bidang Pengawasan Bank Umum dan Bank Syariah, Siti C Fadjrijah, Direktur Direktorat Pengawasan Bank 1 (DPB 1) Bank Indonesia, Heru Kristiyana, dan Pahla Santoso, selaku pengawas bank DPB 1. (Waspada)


What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Keren Keren
0
Keren
Marah Marah
0
Marah
Muntah Muntah
0
Muntah
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Suka Suka
0
Suka
Takut Takut
0
Takut