Pengendara Didenda Tilang Rp85 Ribu


0

 TOBASA – Akibat rambu-rambu lalulintas yang tidak tepat, Cumri Hutagalung seorang pengunjung Kota Balige terpaksa rela mengeluarkan uang Rp85 ribu kepada petugas Satlantas Polres Tobasa.

Pasalnya, ia ditilang dengan alasan melanggar rambu-rambu lalulintas saat melintas di Jalan Gereja yang perboden (searah), dari arah Gereja HKBP Balige menuju jalan protokol, usai menghadiri acara wisuda saudaranya, Jumat (29/8).

“Saya tidak tahu kalau ada perboden dilarang melintas dari arah Gereja HKBP menuju jalan besar ini. Sebab, tidak ada rambu-rambu peringatan. Tiba-tiba saja seorang personel Satlantas yang berada sendiri di persimpangan itu langsung memberhentikan saya. Kemudian saya ditilang. Saya coba jelaskan kejadian itu, namun tidak dihiraukan dan langsung pergi membawa STNK mobil saya. Katanya urus di kantor,” ujar Cumri Hutagalung yang ditemui di depan kantor Satlantas Polres Tobasa, Jumat (29/8).

Ia menerangkan, mereka sengaja datang ke Balige dari kampung halamannya di Kecamatan Sitahuis, Tapteng untuk menghadiri acara wisuda saudaranya yang kuliah di Akbid HKBP Balige. Mereka berangkat mengendarai mobil Suzuki Carry nomor polisi B 1865 GVI.

Cumri yang lama menetap di Jakarta baru kali itu melintas dari Jalan Gereja Balige, sehingga tidak paham kondisi jalan di daerah itu. Tak tahunya, ia malah salah masuk jalan dan akhirnya ditilang. Namun karena tidak ingin berurusan lama-lama di Balige, ia pun pasrah saat petugas Satlantas meminta bayaran Rp85 ribu untuk membayar denda tilang atas kesalahannya.

“Saat itu kalau tidak salah petugas yang menilang bernama Budyanto. Waktu saya temui di depan kantor Satlantas, katanya saya langsung berurusan dengan petugas tilang yang berada di ruangan depan kantor itu. Lantas di dalam ruangan, dua orang wanita meminta uang Rp85 ribu. Saya minta kurang, katanya memang segitulah harganya biasa. Dan kalau tidak mau bayar, terpaksa ikut persidangan,” terangnya.

Kejadian itu membuatnya sangat penasaran. Bahkan saking penasarannya, ia sampai kembali melintasi Jalan Gereja untuk melihat apakah ada rambu-rambu larangan di sepanjang jalan itu.

“Sudah saya cari. Memang ada rambu-rambu perintah “wajib belok kiri” yang di bawah rambu itu ada ditetapkan waktunya. Tapi tulisan di bawah rambu tidak jelas terbaca dan sebagian dilakban warna hitam. Lalu saya mengikuti mobil lain yang juga searah,” paparnya.

Kejadian itu membuatnya kecewa. Yang pertama ia merasa kecewa dengan minimnya rambu-rambu, kemudian kurang profesionalnya petugas Satlantas. “Harusnya kalau memang dilarang melintas dari Jalan Gereja itu, dipasanglah rambu-rambu dilarang masuk. Saya yakin bukan saya saja pendatang yang tidak paham hal itu.

Kemudian, kami harapkan petugas Satlantas memberikan sedikit keringanan dengan kejadian seperti ini. Tilang bukan selalu menjadi keputusan terakhir. Jujur saja, bila kita tinjau dari segi peraturan yang sebenarnya, tidak semua kesalahan wajib ditilang,” ujarnya.

Selain itu, tata krama saat menilang dan peraturan menerbitkan tilang. Ia tidak yakin, apakah memang petugas yang menilangnya benar-benar memiliki izin melakukan tilang di lokasi itu. Tapi inilah pelajaran baginya saat berkunjung ke Balige.

Pantauan di lapangan, Cumri Hutagalung terlihat memberikan uang kepada dua wanita yang bertugas di kantor Satlantas. Sementara Brigadir Budyanto terlihat masih berjaga tepat di depan kantor Satlantas. Saat ditemui, Brigadir Budyanto menyarankan agar langsung menemui petugas di dalam kantor. “Mereka yang tahu harganya. Ke dalam sajalah,” ujar Budyanto.

Sementara dua orang wanita yang bertugas di dalam kantor Satlantas pun terlihat sibuk dengan sejumlah kertas tilang yang diklip dengan sejumlah lembaran uang kertas. “Kalau tidak mau bayar, nanti saja setelah sidang,” tukas seorang wanita yang menerima uang dari Cumri Hutagalung saat ditanyai apakah harga penebusan tilang sebesar Rp85 Ribu.

Terpisah, Kabag Ops Polres Tobasa Kompol Edi B Sinaga yang dikonfirmasi terkait keluhan ini mengatakan akan mengambil sikap. “Sebentar saya konfirmasikan dulu,” tukasnya.

Sementara itu, terkait pelanggaran rambu-rambu di Jalan Gereja itu sering terjadi. Memang sebagian paham dimana tidak diperbolehkan melintas dari arah Gereja HKBP menuju jalan lintas ke Medan, khususnya hari Jumat pada saat pekan.

“Yang kami perhatikan, kalaupun hari Jumat, selalu saja ada mobil yang melanggar rambu itu. Warga di sini saja bisa lupa. Apalagi warga pendatang yang belum paham,” ujar Arvandi, warga sekitar Jalan Gereja Balige. (ft)

(Metrosiantar)


What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Keren Keren
0
Keren
Marah Marah
0
Marah
Muntah Muntah
0
Muntah
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Suka Suka
0
Suka
Takut Takut
0
Takut