Penyuluhan Pencegahan Perilaku Pergaulan Bebas di Kalangan Pelajar Sidimpuan


0

Pergaulan bebas yang terjadi di kalangan pelajar bukan lagi rahasia. Saat ini, menemukan pelajar merokok tidak sulit. Pelajar yang doyan minum minuman keras juga banyak. Bahkan, pelajar yang menjual diri demi BlackBerry sempat menjadi trending topic. Nah, tugas siapa memberangus atau setidaknya mencegah agar hal-hal tersebut tidak terjadi?    

ORYZA PASARIBU, Padangsidimpuan

Pagi itu, Sabtu, delapan Maret. Puluhan pelajar SMP di Kota Padangsidimpuan berkumpul di Aula SMK Negeri 1. Di sana, mereka mengikuti Penyuluhan Pencegahan Perilaku Pergaulan Bebas di Kalangan Pelajar yang digelar Satpol PP bekerja sama dengan Yayasan Burangir, Lembaga Perlindungan Anak dan Perempuan. Dan, puluhan pelajar lainnya juga mengikuti penyuluhan serupa selama lima hari berturut-turut.

“Jujur. Siapa di antara kalian yang sudah pernah merokok?” Tanya seorang pria yang menjadi pembicara saat penyuluhan tersebut. Puluhan anak laki-laki angkat tangan. “Jujur. Ada yang sudah pernah minum-minuman keras?” tanya pria itu lagi. Belasan pelajar laki-laki angkat tangan. “Jujur. Sengaja atau tidak sengaja, siapa yang pernah nonton film porno?” pria itu kembali bertanya.

Hampir semua pelajar laki-laki angkat tangan. “Pertanyaan terakhir. Jujur. Ada enggak kalian tahu, teman, atau saudara kalian di kota ini, yang masih SMP, sudah pernah melakukan hubungan seks?” tanya pria itu lagi. Pelajar laki-laki dan perempuan hampir serentak menjawab; ada. Seketika guru-guru yang mendampingi para pelajar itu, mengelus dada mendengar jawaban tersebut.

“Kejujuran (mereka) menyakitkan dan menakutkan,” kata Timbul Simanungkalit, pembicara yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu, usai penyuluhan yang digelar mulai Senin (3/3) hingga Sabtu (8/3) itu.

Menurut Direktur Yayasan Burangir ini, pergaulan bebas bukan hal tabu bagi pelajar. Aktivitas seks bebas mungkin sesuatu yang biasa di negara lain, khususnya dalam kehidupan barat, tetapi tidak di Indonesia. Hal itu jelas sesuatu yang dilarang di Indonesia. “Kini, pelajar cenderung lebih mengutamakan pacaran dan kebutuhannya yang lain daripada menuntut ilmu. Mereka tidak lagi tenggelam dalam pelajaran akan tetapi sudah tenggelam dalam lautan asmara yang mereka namakan cinta,” ujarnya.

Adapun faktor penyebab terjadinya seks bebas, sambung Timbul, bermula dari pacaran dan pegangan tangan. “Ironisnya, banyak hubungan seks itu dilakukan di rumah sendiri. Yang  pada umumnya dilakukan atas dasar suka sama suka, dan bahkan ada yang berganti-ganti pasangan,” sebut Timbul.

Timbul menambahkan, untuk menjauhkan remaja dari pergaulan bebas dapat dilakukan dengan cara, memberikan bimbingan positif  dari sekolah, juga orangtua di rumah. Meningkatkan kedisiplinan di sekolah, juga di rumah. Memberikan pendidikan seks melalui seminar agar remaja mengetahui betapa bahayanya melakukan seks bebas.

“Dan, peran penting orangtua dalam memberikan nasehat dan mendidik anak-anaknya dalam bimbingan agama yang kuat juga sangat dibutuhkan, begitu juga terhadap pihak penegak keadilan, juga harus menegakkan hukum setegak-tegaknya. Misalnya memberantas pelaku perdangan anak yang menjadi salah satu sumber terjadinya perbudakan seks,” katanya.

Timbul mengharapkan dengan adanya kegiatan tersebut, dapat memberikan pelajaran bagi siswa, untuk mengerti apa arti pergaulan bebas, faktor penyebabnya, cara-cara pencegahannya, dan juga dampak bahaya akibat perilaku tersebut.

Di sisi lain, sambung Timbul lagi, pihaknya merekomendasikan beberapa hal kepada pemerintah kota sebagai upaya pencegahan perilaku pergaulan bebas. Di antaranya, membuat regulasi yang ketat tentang penjualan rokok. Pemko diminta memberlakukan sanksi tegas terhadap warung-warung yang menjual rokok kepada pembeli yang belum genap berusia 18 tahun. Selain itu, Pemko melalui Dinas Pendidikan diharapkan tidak menggunakan perusahaan rokok sebagai sponsor jika ada kegiatan-kegiatan sekolah.

“Hal ini untuk menekan peredaran rokok di kalangan pelajar sekaligus meminimalisir jumlah pelajar yang merokok,” tegas Timbul.

Selain regulasi tentang penjualan rokok, Pemko juga diharapkan memberlakukan jam belajar dengan efektif. Pada jam-jam tertentu diterapkan wajib belajar kepada para pelajar. Misalnya, jam belajar malam, pada pukul 18.00-20.00 Wib. Dan, pada jam-jam tersebut, orangtua diharapkan meluangkan waktu untuk mendampingi anaknya belajar.

Selain jam belajar, Disdik hendaknya menemukan cara tepat untuk mengisi waktu luang para pelajar tersebut. Sebab, hal-hal yang terjadi (pergaulan bebas) sering sekali karena terlalu banyak waktu luang. Sebaiknya, kegiatan ekstrakulikuler di sekolah lebih diaktifkan. Menyediakan bimbingan belajar di sekolah-sekolah setelah jam belajar resmi.

“Semua itu bisa dilakukan karena alokasi dana pendidikan cukup besar. Selama ini, dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sering sekali hanya digunakan untuk pembangunan fisik. Padahal, pemanfaatan dana BOS tidak hanya untuk hal tersebut. Optimalisasi dana BOS sebaiknya lebih kepada hal-hal yang langsung mengena kepada peningkatan mutu pendidikan dan hal-hal yang mampu meningkatkan kualitas pelajar.

Seperti, pembiayaan kegiatan pembelajaran remedial, pembelajaran kontekstual, pembelajaran pengayaan, pemantapan persiapan ujian, olahraga, kesenian, karya ilmiah remaja, pramuka, palang merah remaja, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan sejenisnya. “Misalnya untuk honor jam mengajar tambahan di luar jam pelajaran, membeli alat olahraga dan alat kesenian,” sebut Timbul.

“Dengan begitu, intelektualitas pelajar terbangun, dan kecerdasan mereka terjaga,” tegas Timbul. Dalam kesempatan tersebut, penyuluhan ditutup oleh Walikota Padangsidimpuan Andar Amin Harahap, yang sebelumnya diisi oleh para pembicara yang berasal dari Dinas Pendidikan, Kandepag, Dinas Kesehatan, dan pihak kepolisian.

Sementara itu, Kasatpol PP Kota Psp Samadi Atmajaya selaku pihak penyelenggara, menyampaikan terimakasih kepada pihak terkait atas berjalannya kegiatan tersebut. Ia berharap ke depannya dapat berkesinambungan, untuk menjadikan para generasi muda khususnya di Kota Psp menjadi generasi baik dan berakhlak mulia.

“Terima kasih kepada semua pihak atas terselenggaranya acara ini. Kepada para pelajar, semoga apa yang diberikan dapat menjadi sebuah pendidikan yang berarti,” tutupnya. (*) (Metrosiantar.com)


What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Keren Keren
0
Keren
Marah Marah
0
Marah
Muntah Muntah
0
Muntah
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Suka Suka
0
Suka
Takut Takut
0
Takut