Posisi Boediono kian terpojok


0

JAKARTA – Nasib mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang kini menjabat Wakil Presiden Boediono dalam kasus Century kian terpojok. Namanya disebut dalam dakwaan Budi Mulya. Di saat bersamaan DPR pun bersiap memanggil kali ketiga. Ancaman panggil paksa mengintai Boediono.

Nama Boediono mencuat dalam dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kasus Century, Jakarta. Anggota Tim Pengawas Century DPR RI Bambang Soesatyo mendesak pimpinan DPR mengundang Boediono ke Timwas Century. “Pemanggilan Boediono merupakan mekanisme dewan. Ini soal kewibawaan lembaga,” kata Bambang di Gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, hari ini.

Seperti diketahui, Boediono telah dipanggil dua kali oleh Timwas DPR Century. Namun dalam dua kali pemanggilan tersebut Boediono tak datang. Timwas berencana memanggilnya untuk ketiga kalinya.

Proses pemanggilan ketiga kalinya, memunculkan polemik di internal DPR. Ketua DPR RI Marzuki Alie mengatakan dirinya berpandangan tidak tepat bila Timwas Century memanggil Boediono. Menurut dia, saat ini proses hukum tengah berjalan di Pengadlan Tipikor. “Yang kita dorong hukum bukan politik lagi. Timwas Century mengawasi proses penegakan hukum,” kata Marzuki.

Sementara Juru Bicara Wapres Boediono Yopie Hidayat memastikan Wapres Boediono siap menghadiri sidang di Tipikor Jakarta terkait kasus Century. Dalam persidangan Budi Mulya, nama Boediono disebut ikut serta dalam proses bailout century.

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad mengatakan, tersangka selanjutnya dalam kasus bailout Bank Century ditentukan oleh fakta persidangan Budi Mulya.

“Dari fakta di depan pengadilan itu nanti, KPK akan menentukan siapa lagi yang akan dijadikan tersangka selain BM (Budi Mulya) dalam kasus Century,” katanya, tadi malam

Seperti diberitakan sebelumnya, Budi Mulya menjalani sidang perdana sebagai terdakwa kasus dugaan pemberian FPJP dan penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik.

Dalam dakwaan tersebut Budi Mulya didakwa bersama-sama dengan Mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono, mantan Deputi Gubernur Senior (DGS) BI, Miranda Swaray Gultom.

“Terdakwa selaku Deputi Gubernur BI melakukan tindak pidana korupsi bersama-sama dengan Boediono selaku Gubernur BI, Miranda S Goeltom selaku Deputi Senior BI, Siti C Fadjriah selaku Deputi Gubernur Bidang 6, Budi Rochadi (almarhum) selaku Deputi Gubernur Bidang 7, serta bersama-sama dengan Robert Tantular dan Harmanus H Muslim dalam kaitannya dengan pemberian FPJP,” kata jaksa KMS Roni saat membacakan surat dakwaan dalam sidang di Pengadilan Tipikor.

Kemudian, Budi Mulya juga didakwa bersama-sama dengan Muliaman Hadad selaku Deputi Gubernur 5, Hartadi A Sarwono Deputi Gubernur Bidang 3, Ardhayadi M selaku Deputi Gubernur Bidang 8 serta Raden Pardede selaku Sekertaris KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) dalam kaitannya dengan proses penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik.

Dalam penjelasannya, Roni mengatakan bahwa terdakwa selaku Deputi Gubernur BI Bidang 4 yang membawahi Pengelolaan Moneter dan Devisa melakukan perbuatan melawan hukum terkait pemberian FPJP ke Bank Century sebesar Rp 689.394 miliar.

Padahal, telah dilakukan perubahan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 10/20/PBI/2008 tanggal 14 November 2008. Intinya, peraturan itu merevisi persyaratan bank penerima FPJP, dari semula bank harus memiliki CAR minimal delapan persen menjadi CAR hanya positif saja.

Dengan tujuan, Bank Century memenuhi syarat untuk mendapatkan FPJP. Padahal, Pada 30 September 2008, CAR Bank Century hanya positif 2,35 persen. Kemudian, aturan PBI No.10/26/PBI/2008 tentang FPJP Bagi Bank Umum tanggal 30 Oktober 2008 sebelumnya mensyaratkan bank umum yang bisa memperoleh FPJP harus memiliki CAR minimal delapan persen.

Terkait perubahan tersebut, disebut ada peran Boedono selaku Gubernur BI saat itu. Atas perbuatannya, lanjut Roni, merugikan keuangan negara sebesar Rp 689.394 miliar terkait pemberian FPJP dan sebesar Rp 6,742 triliun terkait pemberian penyertaan modal sementara.

Kemudian, Budi Mulya juga dikatakan memperkaya diri sendiri sebesar Rp 1 miliar. Kemudian, Hesyam al Waraq dan Rafat Ali Risvi selaku pemegang saham dan pengendali Bank Century sebesar Rp 3,115 triliun. Serta, memperkaya Robert Tantular pemilik Bank Century dan pihak-pihak terkait sekitar Rp 2 triliun. Selanjutnya, memperkaya PT Bank Century terbuka sebesar Rp 1,581 triliun.

Atas perbuatannya, terhadap Budi Mulya dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 UU Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 64 ayat (1) KUHP, dalam dakwaan primer. Serta, Pasal 3 jo Pasal 18 UU Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 64 ayat (1) KUHP, dalam dakwaan Subsider. Dengan ancaman hukum maksimal 20 tahun penjara. (Waspada)


What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Keren Keren
0
Keren
Marah Marah
0
Marah
Muntah Muntah
0
Muntah
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Suka Suka
0
Suka
Takut Takut
0
Takut