Potensi Kopi Luwak dari Sipirok


0

kopi-luwak-sipirokSetiap pagi kami menikmati kopi untuk menciptakan inspirasi untuk melakukan aktivitas. Aroma wangi asap dari secangkir kopi luwak mampu menghilangkan kantuk dan memacu semangat petani mengolah ladang” Itulah kesimpulan yang diambil dari berbagai dialog bersama masyarakat pinggiran cagar Alam Dolok Sibual-buali, Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan. Di sini, siapapun bisa melihat 90 hektare hamparan tanaman kopi arabika yang buahnya segar memerah, menjadi makanan musang yang berasal dari hutan lindung yang berada tak jauh dari ladang petani.

Musang yang juga dikenal dengan sebutan luwak itu, dengan caranya yang unik, yakni memamah kopi lalu mengeluarkannya dari perutnya, berhasil membuat harga kopi lebih tinggi dan rasa yang juga lebih nikmat.

Dikatakan petani kopi di Desa Sialaman, Kecamatan Sipirok, Tapsel, Irsan Simanjuntak, karena berdekatan dengan kawasan hutan lindung, tak heran jika banyak musang yang memakan buah kopi masyarakat. Sehingga produksi kopi mengalami penurunan dalam jumlah yang tidak sedikit.
Hal tersebut tentunya merugikan petani yang mengharapkan panennya melimpah. “Akhirnya kami berpikir, bagaimana caranya, meskipun musang datang, kami tak mengalami kerugian, tapi justru kebalikannya, untung dengan datangnya musang,” katanya.

Selama ini, jika musang memakan buah kopi, kemudian langsung ke hutan dan membuang kotorannya di dalam hutan. Padahal, sebagaimana banyak diketahui, kopi yang sebelumnya dimakan musang atau luwak, memiliki cita rasa yang jauh lebih nikmat daripada yang dipanen biasa. “Siapapun tahu, rasanya lebih nikmat, kopi ini yang kami olah dan kami jual karena rasanya yang lebih nikmat,” katanya.

Cara yang dilakukannya agar setelah memakan buah kopi kemudian membuang kotorannya tak jauh dari ladang kopi, dengan menanam tanaman lindung, yakni tanaman buah, mulai dari tanaman pepaya, alpukad, pisang dan jambu.

Dengan tanaman pelindung tersebut, sebelum kopi kembali ke hutan, luwak sudah kenyang karena juga memakan buah yang berada di sekitar tanaman kopi, kemudian mengeluarkan kopi dari perutnya yang berupa biji kopi utuh. Setelah beberapa saat, oleh petani dikumpulkan kemudian diolah. “Sebelum ada tanaman pelindung, musang langsung masuk ke hutan, jadi luwak itu lebih mirip pengganggu. Sekarang, kami bisa mendapatkan manfaatnya,” katanya.

Kopi yang dikeluarkan luwak dengan yang dikeluarkan binatang lain, yang juga memakan buah kopi sangat berbeda. Buah yang dimakan luwak, dalam kotorannya, biji kopinya menyatu. Tidak berserak sebagaimana binatang lain. Begitu pun, luwak menempatkannya di batang-batang kayu yang tidak bercampur dengan pasir sehingga petani mudah membedakannya. “Tentu saja rasanya jauh berbeda,” katanya.

Setelah masyarakat mengetahui keberadaan luwak bisa bermanfaat, kini petani mulai menanam tanaman buah sebagai tanaman pelindung. Dengan demikian. Selain itu, petani juga bisa mendapatkan tambahan alternatif dari tanaman buah yang ditanam. Karena buah yang tak disentuh musang juga bisa dijual atau paling tidak dikonsumsi sendiri.

Diakuinya, memang belum semua yang menanam tanaman pelindung namun ia yakin dalam waktu yang tidak lama, akan semakin banyak petani yang menanam tanaman pelindung dan mengumpulkan kopi luwak di sekitar ladangnya. “Dengan begitu, petani bisa memiliki pendapatan yang lebih tinggi daripada biasanya, karena kopinya terlindung, ada buah yang bisa dijual atau dikonsumsinya sendiri, dan tentunya kopi luwak yang citarasanya lebih nikmat,” ungkapnya.(dewantoro) (medanbisnis)


What's Your Reaction?

Kaget Kaget
0
Kaget
Keren Keren
0
Keren
Marah Marah
0
Marah
Muntah Muntah
0
Muntah
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Suka Suka
0
Suka
Takut Takut
0
Takut